Workshop Maturity Rating
Workshop evaluasi dan penetapan target pemenuhan indikator maturity rating tahun 2025
Workshop evaluasi dan penetapan target pemenuhan indikator maturity rating tahun 2025

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya, dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui program pengabdian. Sebanyak 38 mahasiswa resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif UNG–UGM Tahun 2026 yang mengusung tema “Mewujudkan Desa Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.”Program kolaboratif yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.Kegiatan coaching dan pelepasan peserta berlangsung secara resmi dengan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akan menjadi bekal selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa para peserta akan melaksanakan program pengabdian di lima desa yang tersebar pada tiga kecamatan di dua kabupaten. Melalui KKN kolaboratif ini, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.“Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKN, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan di desa,” ujar Rosbin.Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pengembangan ekonomi lokal, transformasi digital, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.Dalam arahannya, Prof. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menegaskan bahwa KKN merupakan sarana pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat memahami berbagai dinamika sosial sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.“KKN memberikan pengalaman nyata yang tidak diperoleh di ruang kelas. Mahasiswa harus mampu membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk merancang program yang memberikan manfaat jangka panjang,” ungkap Hafidz.Ia juga menekankan bahwa kegiatan coaching sebelum keberangkatan menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan di lapangan. Berbagai materi pembekalan diberikan, mulai dari strategi pemberdayaan masyarakat, pemetaan potensi desa, penguatan ekonomi berbasis lokal, transformasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan.

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) kembali menunjukkan komitmennya, dalam mendukung pembangunan masyarakat melalui program pengabdian. Sebanyak 38 mahasiswa resmi dilepas untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif UNG–UGM Tahun 2026 yang mengusung tema “Mewujudkan Desa Cerdas, Sejahtera, dan Berkelanjutan Berbasis Potensi Lokal.”Program kolaboratif yang melibatkan Universitas Negeri Gorontalo dan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat desa melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.Kegiatan coaching dan pelepasan peserta berlangsung secara resmi dengan dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa dibekali berbagai pengetahuan dan keterampilan yang akan menjadi bekal selama menjalankan pengabdian di tengah masyarakat.Kepala Pusat KKN UNG, Dr. Rosbin Pakaya, M.Pd., menjelaskan bahwa para peserta akan melaksanakan program pengabdian di lima desa yang tersebar pada tiga kecamatan di dua kabupaten. Melalui KKN kolaboratif ini, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam pengembangan desa berbasis potensi lokal sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat.“Mahasiswa tidak hanya hadir sebagai peserta KKN, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan inovasi dan solusi bagi berbagai persoalan di desa,” ujar Rosbin.Menurutnya, program ini dirancang untuk memperkuat peran mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pengembangan ekonomi lokal, transformasi digital, pemberdayaan masyarakat, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.Dalam arahannya, Prof. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menegaskan bahwa KKN merupakan sarana pembelajaran yang sangat penting bagi mahasiswa. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, mahasiswa dapat memahami berbagai dinamika sosial sekaligus mengembangkan kemampuan kepemimpinan, komunikasi, kolaborasi, dan pemecahan masalah.“KKN memberikan pengalaman nyata yang tidak diperoleh di ruang kelas. Mahasiswa harus mampu membangun sinergi dengan pemerintah desa dan masyarakat untuk merancang program yang memberikan manfaat jangka panjang,” ungkap Hafidz.Ia juga menekankan bahwa kegiatan coaching sebelum keberangkatan menjadi bagian penting untuk memastikan mahasiswa siap menghadapi tantangan di lapangan. Berbagai materi pembekalan diberikan, mulai dari strategi pemberdayaan masyarakat, pemetaan potensi desa, penguatan ekonomi berbasis lokal, transformasi digital, hingga pembangunan berkelanjutan.

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus menunjukkan komitmennya, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sosialisasi Penguatan Akses Studi Lanjut bagi Dosen yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Rektorat UNG.Kegiatan yang diikuti para dosen dari berbagai fakultas ini dibuka langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Hadir sebagai narasumber utama, akademisi terkemuka Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S.**, yang berbagi pengalaman, strategi, serta motivasi bagi dosen muda UNG.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa studi lanjut merupakan investasi strategis bagi masa depan universitas. Menurutnya, peningkatan kualifikasi akademik dosen akan memberikan dampak langsung terhadap mutu pendidikan, produktivitas riset, serta kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.“Penguatan kapasitas dosen melalui pendidikan lanjutan merupakan bagian penting dari upaya membangun universitas yang unggul dan berdaya saing. Dosen yang memiliki kompetensi akademik tinggi akan menjadi motor penggerak peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Eduart.Melalui kegiatan ini, para dosen didorong untuk mulai merencanakan studi lanjut secara matang, mulai dari menentukan bidang keilmuan yang akan ditekuni, mempersiapkan topik riset yang relevan, hingga membangun jejaring akademik yang mendukung pengembangan karier mereka.Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S., dalam pemaparannya memberikan berbagai perspektif mengenai strategi sukses studi lanjut bagi dosen. Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang akademisi tidak hanya ditentukan oleh peluang yang tersedia, tetapi juga oleh komitmen, konsistensi, dan kecintaan terhadap dunia ilmu pengetahuan.Dosen perlu memiliki visi yang jelas mengenai bidang keilmuan yang ingin dikembangkan serta fokus dalam membangun kompetensi akademik yang berkelanjutan. Seorang dosen harus mampu bangun komunikasi, terus tingkatkan kapasitas akademik melalui berbagai aktivitas ilmiah, serta terus membangun networking dengan berbagai pihak.Ia juga menyoroti pentingnya publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator utama pengakuan akademik di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, dosen harus aktif membangun kolaborasi penelitian, memperluas jaringan akademik, serta menjalani proses ilmiah dengan kesabaran dan konsistensi. (**)

GORONTALO – Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus menunjukkan komitmennya, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Sosialisasi Penguatan Akses Studi Lanjut bagi Dosen yang berlangsung di Ruang Sidang Senat Rektorat UNG.Kegiatan yang diikuti para dosen dari berbagai fakultas ini dibuka langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., didampingi Wakil Rektor Bidang Akademik, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, S.Pi., M.Si. Hadir sebagai narasumber utama, akademisi terkemuka Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S.**, yang berbagi pengalaman, strategi, serta motivasi bagi dosen muda UNG.Dalam sambutannya, Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU., ASEAN Eng., menegaskan bahwa studi lanjut merupakan investasi strategis bagi masa depan universitas. Menurutnya, peningkatan kualifikasi akademik dosen akan memberikan dampak langsung terhadap mutu pendidikan, produktivitas riset, serta kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.“Penguatan kapasitas dosen melalui pendidikan lanjutan merupakan bagian penting dari upaya membangun universitas yang unggul dan berdaya saing. Dosen yang memiliki kompetensi akademik tinggi akan menjadi motor penggerak peningkatan kualitas pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” ujar Eduart.Melalui kegiatan ini, para dosen didorong untuk mulai merencanakan studi lanjut secara matang, mulai dari menentukan bidang keilmuan yang akan ditekuni, mempersiapkan topik riset yang relevan, hingga membangun jejaring akademik yang mendukung pengembangan karier mereka.Sementara itu, Prof. Dr. Ir. Noer Azam Achsani, M.S., dalam pemaparannya memberikan berbagai perspektif mengenai strategi sukses studi lanjut bagi dosen. Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang akademisi tidak hanya ditentukan oleh peluang yang tersedia, tetapi juga oleh komitmen, konsistensi, dan kecintaan terhadap dunia ilmu pengetahuan.Dosen perlu memiliki visi yang jelas mengenai bidang keilmuan yang ingin dikembangkan serta fokus dalam membangun kompetensi akademik yang berkelanjutan. Seorang dosen harus mampu bangun komunikasi, terus tingkatkan kapasitas akademik melalui berbagai aktivitas ilmiah, serta terus membangun networking dengan berbagai pihak.Ia juga menyoroti pentingnya publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator utama pengakuan akademik di tingkat nasional maupun internasional. Menurutnya, dosen harus aktif membangun kolaborasi penelitian, memperluas jaringan akademik, serta menjalani proses ilmiah dengan kesabaran dan konsistensi. (**)

GORONTALO – Ketika mendengar kata daun pandan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan aroma harum pada nasi, kue, atau minuman tradisional. Selama ini, tanaman bernama ilmiah Pandanus amaryllifolius itu memang lebih dikenal sebagai penyedap alami dalam berbagai hidangan khas Nusantara. Namun, siapa sangka bahwa tanaman yang akrab di dapur ini ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan?Temuan menarik tersebut diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Penelitian ini mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu penyembuhan luka bakar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan tidak sekadar menghadirkan aroma khas, tetapi juga memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan kulit.Luka Bakar dan Tantangan PenanganannyaLuka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada kasus luka bakar derajat dua, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya.Proses penyembuhan luka bakar memerlukan penanganan yang tepat karena luka yang terbuka rentan mengalami infeksi bakteri. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memperlambat penyembuhan bahkan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.Karena itu, pengembangan bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh menjadi salah satu fokus penelitian di bidang farmasi modern.Mengubah Daun Pandan Menjadi Gel Penyembuh LukaDalam penelitian ini, para peneliti menggunakan ekstrak etanol 70 persen daun pandan yang kemudian diformulasikan menjadi gel topikal. Tiga formulasi disiapkan dengan konsentrasi ekstrak berbeda, yaitu 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.Setiap formulasi diuji secara menyeluruh untuk menilai kualitas dan kestabilannya. Beberapa parameter yang diamati meliputi tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu.Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh formulasi menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk sediaan gel pada kulit. Artinya, formulasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk farmasi berbasis bahan alam.Aman bagi KulitSelain efektivitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk kesehatan. Untuk itu, peneliti melakukan uji iritasi guna melihat apakah gel dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang pada manusia.Konsentrasi Lebih Tinggi, Penyembuhan Lebih CepatSalah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan gel daun pandan dalam mendukung penyembuhan luka bakar.Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen menunjukkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin besar pula potensi efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit.Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam melalui penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.Rahasia di Balik Khasiat Daun PandanApa yang membuat daun pandan berpotensi membantu penyembuhan luka?Jawabannya terletak pada kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Daun pandan diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan polifenol—kelompok senyawa yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.Antioksidan berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan sifat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang sering muncul selama proses penyembuhan luka.Kombinasi kedua aktivitas ini diduga berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.Melawan Bakteri Penyebab InfeksiTidak hanya membantu penyembuhan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan aktivitas antibakteri.Penelitian menguji kemampuan gel dalam menghambat pertumbuhan dua bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan efek yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus.Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan daun pandan sebagai sumber senyawa antimikroba alami untuk pengembangan produk perawatan luka di masa depan.Dari Tanaman Tradisional Menuju Inovasi FarmasiMeskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa seluruh temuan masih berada pada tahap praklinis. Sebelum dapat digunakan secara luas dalam layanan kesehatan, formulasi ini masih memerlukan serangkaian penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang.Namun demikian, studi ini memberikan gambaran bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Tanaman sederhana yang selama ini digunakan sebagai pewangi makanan ternyata memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa inovasi sering kali berawal dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pandan yang biasa hadir di dapur keluarga Indonesia kini menunjukkan potensi untuk melangkah lebih jauh—dari penyedap masakan menuju kandidat terapi penyembuhan luka berbasis bahan alam.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

GORONTALO – Ketika mendengar kata daun pandan, kebanyakan orang mungkin langsung membayangkan aroma harum pada nasi, kue, atau minuman tradisional. Selama ini, tanaman bernama ilmiah Pandanus amaryllifolius itu memang lebih dikenal sebagai penyedap alami dalam berbagai hidangan khas Nusantara. Namun, siapa sangka bahwa tanaman yang akrab di dapur ini ternyata menyimpan potensi besar di bidang kesehatan?Temuan menarik tersebut diungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Mohamad A. Paneo bersama tim peneliti yang terdiri atas Nurain Thomas, Fika N. Ramadhani, Multiani S. Latif, Faradila R. Moo, Lisa E. Puluhulawa, Intan Nusi, dan Angreni Ayuhastuti. Penelitian ini mengkaji pengembangan gel berbahan ekstrak daun pandan sebagai kandidat terapi topikal untuk membantu penyembuhan luka bakar.Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun pandan tidak sekadar menghadirkan aroma khas, tetapi juga memiliki senyawa bioaktif yang berpotensi mendukung proses regenerasi jaringan kulit.Luka Bakar dan Tantangan PenanganannyaLuka bakar merupakan salah satu cedera yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, baik akibat kecelakaan rumah tangga, paparan panas, maupun bahan kimia. Pada kasus luka bakar derajat dua, kerusakan tidak hanya terjadi pada lapisan kulit terluar, tetapi juga mencapai lapisan di bawahnya.Proses penyembuhan luka bakar memerlukan penanganan yang tepat karena luka yang terbuka rentan mengalami infeksi bakteri. Jika tidak ditangani dengan baik, infeksi dapat memperlambat penyembuhan bahkan menyebabkan komplikasi yang lebih serius.Karena itu, pengembangan bahan alami yang aman, efektif, dan mudah diperoleh menjadi salah satu fokus penelitian di bidang farmasi modern.Mengubah Daun Pandan Menjadi Gel Penyembuh LukaDalam penelitian ini, para peneliti menggunakan ekstrak etanol 70 persen daun pandan yang kemudian diformulasikan menjadi gel topikal. Tiga formulasi disiapkan dengan konsentrasi ekstrak berbeda, yaitu 30 persen, 35 persen, dan 40 persen.Setiap formulasi diuji secara menyeluruh untuk menilai kualitas dan kestabilannya. Beberapa parameter yang diamati meliputi tingkat keasaman (pH), viskositas atau kekentalan gel, serta kestabilan selama penyimpanan pada berbagai kondisi suhu.Hasilnya cukup menggembirakan. Seluruh formulasi menunjukkan karakteristik fisik yang stabil dan memenuhi kriteria yang dibutuhkan untuk sediaan gel pada kulit. Artinya, formulasi tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai produk farmasi berbasis bahan alam.Aman bagi KulitSelain efektivitas, aspek keamanan juga menjadi perhatian utama dalam pengembangan produk kesehatan. Untuk itu, peneliti melakukan uji iritasi guna melihat apakah gel dapat menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan pada kulit.Selama masa pengamatan, tidak ditemukan tanda-tanda kemerahan maupun pembengkakan pada area aplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa formulasi gel ekstrak daun pandan memiliki kompatibilitas yang baik terhadap kulit dalam kondisi penelitian yang dilakukan.Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa pengujian lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan keamanan penggunaan jangka panjang pada manusia.Konsentrasi Lebih Tinggi, Penyembuhan Lebih CepatSalah satu hasil paling menarik dari penelitian ini adalah kemampuan gel daun pandan dalam mendukung penyembuhan luka bakar.Pada model praklinis yang digunakan, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 40 persen menunjukkan proses penutupan luka yang lebih cepat dibandingkan formulasi berkonsentrasi lebih rendah maupun kelompok pembanding.Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak daun pandan, semakin besar pula potensi efektivitasnya dalam mendukung regenerasi jaringan kulit.Namun, para peneliti mengingatkan bahwa hubungan tersebut masih perlu dikaji lebih mendalam melalui penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme biologis yang mendasarinya.Rahasia di Balik Khasiat Daun PandanApa yang membuat daun pandan berpotensi membantu penyembuhan luka?Jawabannya terletak pada kandungan senyawa bioaktif yang dimilikinya. Daun pandan diketahui mengandung flavonoid, tanin, dan polifenol—kelompok senyawa yang telah lama dikenal memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.Antioksidan berfungsi melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, sedangkan sifat antiinflamasi membantu meredakan peradangan yang sering muncul selama proses penyembuhan luka.Kombinasi kedua aktivitas ini diduga berperan penting dalam mempercepat regenerasi jaringan kulit yang mengalami kerusakan.Melawan Bakteri Penyebab InfeksiTidak hanya membantu penyembuhan, gel ekstrak daun pandan juga menunjukkan aktivitas antibakteri.Penelitian menguji kemampuan gel dalam menghambat pertumbuhan dua bakteri yang sering menyebabkan infeksi luka, yaitu Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi gel mampu menghambat pertumbuhan kedua bakteri tersebut, dengan efek yang lebih kuat terhadap Staphylococcus aureus.Temuan ini membuka peluang baru bagi pemanfaatan daun pandan sebagai sumber senyawa antimikroba alami untuk pengembangan produk perawatan luka di masa depan.Dari Tanaman Tradisional Menuju Inovasi FarmasiMeskipun hasil penelitian ini sangat menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa seluruh temuan masih berada pada tahap praklinis. Sebelum dapat digunakan secara luas dalam layanan kesehatan, formulasi ini masih memerlukan serangkaian penelitian lanjutan, termasuk uji klinis pada manusia dan evaluasi keamanan jangka panjang.Namun demikian, studi ini memberikan gambaran bahwa kekayaan hayati Indonesia menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya tergali. Tanaman sederhana yang selama ini digunakan sebagai pewangi makanan ternyata memiliki peluang untuk berkembang menjadi produk kesehatan bernilai tinggi.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan kita bahwa inovasi sering kali berawal dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daun pandan yang biasa hadir di dapur keluarga Indonesia kini menunjukkan potensi untuk melangkah lebih jauh—dari penyedap masakan menuju kandidat terapi penyembuhan luka berbasis bahan alam.(Artikel penelitian ini dipublikasikan melalui laman berikut)

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung internasional, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG, Dr. Arfiani Rizki Paramata, kembali dipercaya mengikuti program internasional bergengsi di Republik Rakyat Tiongkok melalui 2026 Shanghai Summer School on Sustainable Aquaculture yang diselenggarakan oleh Shanghai Ocean University.Program yang berlangsung sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti muda dari berbagai belahan dunia untuk mendalami isu-isu strategis terkait akuakultur berkelanjutan. Peserta berasal dari kawasan Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Timur Tengah.Berdasarkan daftar resmi peserta, hanya 23 peserta dari 25 negara dan institusi internasional yang berhasil lolos mengikuti program ini. Dalam daftar tersebut, Dr. Arfiani tercatat sebagai satu-satunya perwakilan Universitas Negeri Gorontalo sekaligus menjadi salah satu delegasi Indonesia yang memperoleh kesempatan berharga tersebut.Program yang diselenggarakan oleh College of Fisheries and Life Sciences, Shanghai Ocean University menghadirkan berbagai agenda akademik dan praktik lapangan. Para peserta akan mengikuti kuliah pakar, seminar internasional, diskusi ilmiah, kunjungan ke industri akuakultur modern, hingga pengenalan budaya Tiongkok.Lebih istimewa lagi, seluruh pembiayaan peserta ditanggung penuh melalui skema beasiswa yang didukung oleh Shanghai Ocean University dan Pemerintah Kota Shanghai. Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan, akomodasi, serta seluruh kebutuhan pembelajaran selama program berlangsung.Bagi Arfiani, kesempatan ini memiliki makna yang sangat istimewa. Pasalnya, ini merupakan tahun kedua dirinya memperoleh kesempatan belajar dan memperluas jejaring internasional di Tiongkok melalui program beasiswa bergengsi.“Saya sangat bersyukur karena tahun ini kembali diberi kesempatan untuk belajar di Tiongkok melalui program beasiswa internasional. Tahun lalu saya mengikuti program yang diselenggarakan oleh Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok (MOST), dan tahun ini memperoleh kesempatan melalui beasiswa yang didukung Pemerintah Shanghai dan Shanghai Ocean University,” ungkapnya.Menurutnya, pengalaman internasional tersebut tidak hanya memperkaya wawasan akademik di bidang perikanan dan akuakultur, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset dan kerja sama internasional yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sektor perikanan dan kelautan Indonesia, khususnya di Provinsi Gorontalo.Ia berharap ilmu, pengalaman, serta jejaring global yang diperoleh selama mengikuti program ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan, penelitian, dan inovasi di lingkungan FPIK UNG.Keikutsertaan Dr. Arfiani dalam program internasional ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, S.T., M.T., sebagai bagian dari komitmen universitas, dalam mendorong peningkatan kapasitas dosen melalui penguatan jejaring akademik global.Menurutnya keikutsertaan ini semakin mengukuhkan posisi UNG dalam jejaring akademik internasional, khususnya di bidang perikanan dan kelautan. Keberhasilan akademisi FKTP menembus program internasional bergengsi ini menjadi bukti bahwa akademisi UNG mampu bersaing dan berkontribusi di level global.“Prestasi tersebut sekaligus mempertegas komitmen UNG dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi serta memperluas jejaring kolaborasi internasional demi menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (**)

GORONTALO – Kiprah akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung internasional, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dosen Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG, Dr. Arfiani Rizki Paramata, kembali dipercaya mengikuti program internasional bergengsi di Republik Rakyat Tiongkok melalui 2026 Shanghai Summer School on Sustainable Aquaculture yang diselenggarakan oleh Shanghai Ocean University.Program yang berlangsung sepanjang Juni hingga awal Juli 2026 tersebut mempertemukan akademisi dan peneliti muda dari berbagai belahan dunia untuk mendalami isu-isu strategis terkait akuakultur berkelanjutan. Peserta berasal dari kawasan Asia, Eropa, Afrika, Amerika, hingga Timur Tengah.Berdasarkan daftar resmi peserta, hanya 23 peserta dari 25 negara dan institusi internasional yang berhasil lolos mengikuti program ini. Dalam daftar tersebut, Dr. Arfiani tercatat sebagai satu-satunya perwakilan Universitas Negeri Gorontalo sekaligus menjadi salah satu delegasi Indonesia yang memperoleh kesempatan berharga tersebut.Program yang diselenggarakan oleh College of Fisheries and Life Sciences, Shanghai Ocean University menghadirkan berbagai agenda akademik dan praktik lapangan. Para peserta akan mengikuti kuliah pakar, seminar internasional, diskusi ilmiah, kunjungan ke industri akuakultur modern, hingga pengenalan budaya Tiongkok.Lebih istimewa lagi, seluruh pembiayaan peserta ditanggung penuh melalui skema beasiswa yang didukung oleh Shanghai Ocean University dan Pemerintah Kota Shanghai. Beasiswa tersebut mencakup biaya pendidikan, akomodasi, serta seluruh kebutuhan pembelajaran selama program berlangsung.Bagi Arfiani, kesempatan ini memiliki makna yang sangat istimewa. Pasalnya, ini merupakan tahun kedua dirinya memperoleh kesempatan belajar dan memperluas jejaring internasional di Tiongkok melalui program beasiswa bergengsi.“Saya sangat bersyukur karena tahun ini kembali diberi kesempatan untuk belajar di Tiongkok melalui program beasiswa internasional. Tahun lalu saya mengikuti program yang diselenggarakan oleh Kementerian Sains dan Teknologi Tiongkok (MOST), dan tahun ini memperoleh kesempatan melalui beasiswa yang didukung Pemerintah Shanghai dan Shanghai Ocean University,” ungkapnya.Menurutnya, pengalaman internasional tersebut tidak hanya memperkaya wawasan akademik di bidang perikanan dan akuakultur, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset dan kerja sama internasional yang dapat memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sektor perikanan dan kelautan Indonesia, khususnya di Provinsi Gorontalo.Ia berharap ilmu, pengalaman, serta jejaring global yang diperoleh selama mengikuti program ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan, penelitian, dan inovasi di lingkungan FPIK UNG.Keikutsertaan Dr. Arfiani dalam program internasional ini mendapat dukungan penuh dari Rektor UNG, Prof. Dr. Eduart Wolok, S.T., M.T., sebagai bagian dari komitmen universitas, dalam mendorong peningkatan kapasitas dosen melalui penguatan jejaring akademik global.Menurutnya keikutsertaan ini semakin mengukuhkan posisi UNG dalam jejaring akademik internasional, khususnya di bidang perikanan dan kelautan. Keberhasilan akademisi FKTP menembus program internasional bergengsi ini menjadi bukti bahwa akademisi UNG mampu bersaing dan berkontribusi di level global.“Prestasi tersebut sekaligus mempertegas komitmen UNG dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi serta memperluas jejaring kolaborasi internasional demi menghadirkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” pungkasnya. (**)