Site Logo
Semua Berita
Semua Berita Siaran PersPenelitianPengumumanUNG BerdampakPengabdianSNPMBKemdikti SaintekMBKMSDGsPrestasi MahasiswaKerjasamaKemahasiswaanCampus LifeAkademikAkreditasiUmumJDIH
Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional
17 Oct 2026
03:42 WITA

Lulus 100 Persen UKOM, Profesi Ners FOK UNG Raih Penghargaan Platinum Terbaik Nasional

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di tingkat nasional. Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Jurusan Keperawatan, Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG, berhasil meraih Penghargaan Persentase Kelulusan Terbaik Nasional Kategori Peserta 60–99 dengan Peringkat Platinum (100 persen) pada Uji Kompetensi Ners Indonesia (UKOM Ners) Periode I Tahun 2026.Penghargaan tersebut diserahkan dalam rangka Rapat Tahunan Anggota (RTA) ke-24 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Indonesia (AIPNI) Tahun 2026 yang berlangsung di Manado pada 16 Oktober 2026. Capaian ini diraih setelah seluruh 66 peserta UKOM Ners dari Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG dinyatakan lulus, sehingga mencatatkan tingkat kelulusan sempurna sebesar 100 persen.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan kebanggaan dan apresiasi kepada seluruh mahasiswa, dosen, pengelola program studi, serta pihak-pihak yang telah berkontribusi dalam pencapaian tersebut. Menurutnya, penghargaan Platinum menjadi bukti membanggakan sekaligus dorongan untuk terus meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan profesi keperawatan di UNG.Penghargaan Platinum dengan tingkat kelulusan 100 persen merupakan pencapaian yang sangat membanggakan bagi FOK UNG, dimana seluruh 66 peserta berhasil lulus UKOM Ners Periode I Tahun 2026.“Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperkuat kualitas pendidikan, meningkatkan pembinaan mahasiswa, dan memastikan proses pembelajaran berjalan sesuai standar yang ditetapkan,” ungkapnya.Ia menegaskan, keberhasilan dalam uji kompetensi nasional tidak semata-mata diukur dari tingginya persentase kelulusan. Lebih dari itu, capaian tersebut harus menjadi landasan untuk memperkuat kualitas lulusan secara menyeluruh, baik dari sisi pengetahuan, keterampilan, maupun sikap profesional dalam menjalankan tugas sebagai tenaga keperawatan.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., turut menyambut gembira pencapaian Program Studi Pendidikan Profesi Ners FOK UNG. Menurutnya, keberhasilan seluruh peserta melewati uji kompetensi nasional merupakan capaian yang membanggakan sekaligus memperkuat komitmen universitas dalam menyelenggarakan pendidikan profesi yang berkualitas dan berorientasi pada standar kompetensi nasional.“Penghargaan Platinum ini bukan sekadar pengakuan atas keberhasilan meraih kelulusan sempurna, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus melahirkan perawat profesional yang kompeten, beretika, dan siap berkontribusi dalam pelayanan kesehatan,” terang Eduart.Capaian tersebut diharapkan semakin membuktikan kualitas pendidikan profesi ners, sehingga dapat memperkuat kepercayaan masyarakat untuk mengikuti proses pendidikan perawat di UNG.Eduart juga menegaskan bahwa UNG tidak hanya mendorong mahasiswa berhasil dalam uji kompetensi, tapi juga menjadi seorang perawat profesional dengan memberikan pelayanan keperawatan terbaik dan berkualitas, serta berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (**)

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan
14 Oct 2026
05:40 WITA

Dari Limbah Jadi Berkah, Inovasi BioNira Zero Waste UNG Buka Peluang Ekonomi di Dulamayo Selatan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Limbah pengolahan gula aren yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, kini dikembangkan menjadi produk bernilai tambah oleh tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui inovasi BioNira Zero Waste, limbah kolang-kaling dan kulitnya diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber serta pelet biomassa, yang berpotensi membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat Desa Dulamayo Selatan, Kabupaten Gorontalo.Program bertajuk “BioNira Zero Waste: Inovasi Nano Fiber dan Pelet Biomassa Limbah Biji Nira Berbasis Pemberdayaan Karang Taruna Dulamayo Selatan” ini dilaksanakan oleh Rifka Anggraini Anggai, M.Farm., Dr. Dra. Ha. Sri Endang Saleh, M.Si., dan Angry Pratama Solihin, M.Sc. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat, yang memperoleh pendanaan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kemdiktisaintek Tahun 2026.Gagasan ini berangkat dari pengamatan tim terhadap aktivitas pengolahan gula aren di Desa Dulamayo Selatan, yang melibatkan banyak pengrajin dan pelaku usaha. Di balik aktivitas ekonomi tersebut, terdapat limbah yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Kondisi ini mendorong tim menghadirkan pendekatan zero waste dengan mengolah sisa bahan produksi, menjadi produk baru sekaligus melibatkan Karang Taruna sebagai mitra utama dalam pengembangan inovasi di tingkat desa.Ketua tim pengabdian, Rifka Anggraini Anggai, menjelaskan bahwa program ini memanfaatkan kolang-kaling dan kulit kolang-kaling untuk menghasilkan dua jenis produk berbeda. Kolang-kaling diolah menjadi serbuk serat Nano Fiber, menggunakan peralatan yang diserahkan kepada pengurus Karang Taruna, sedangkan kulitnya dimanfaatkan sebagai bahan baku pelet biomassa yang lebih ramah lingkungan.“Buah kolang-kaling kami olah dengan beberapa alat yang kami berikan kepada pengurus Karang Taruna untuk dijadikan serbuk serat Nano Fiber, sementara kulitnya dijadikan pelet biomassa yang ramah lingkungan,” jelas Rifka.Tidak berhenti pada penyediaan peralatan, tim UNG juga memberikan pendampingan agar mitra mampu menjalankan proses produksi secara lebih terarah. Pendampingan mencakup tahapan pengolahan bahan baku, hingga penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pembuatan serbuk serat Nano Fiber dan pelet biomassa. Langkah ini diharapkan menjadi fondasi bagi mitra, untuk menjaga konsistensi proses produksi dan mengembangkan kegiatan secara berkelanjutan.Penguatan kapasitas mitra juga diarahkan pada aspek pemasaran dan digital branding. Melalui pemanfaatan berbagai platform digital, produk yang dikembangkan diharapkan memiliki peluang untuk dikenal lebih luas. Dengan demikian, pemberdayaan tidak hanya berfokus pada keterampilan mengolah limbah, tetapi juga pada kemampuan mengelola produksi dan memperkenalkan produk kepada calon konsumen.Melalui BioNira Zero Waste, UNG mendorong perubahan cara pandang terhadap limbah hasil pengolahan aren, dari sisa produksi yang belum termanfaatkan menjadi sumber daya yang berpotensi menghasilkan nilai ekonomi. Keterlibatan Karang Taruna menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat, untuk mengelola inovasi secara mandiri sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam pengembangan potensi desa.Program ini diharapkan menjadi langkah awal bagi pemanfaatan limbah aren yang lebih produktif di Desa Dulamayo Selatan. Dengan dukungan teknologi tepat guna, pendampingan, dan penguatan pemasaran, inovasi BioNira Zero Waste mencerminkan upaya UNG dalam menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tumbuhnya kegiatan ekonomi berbasis pemanfaatan sumber daya lokal.

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia
13 Oct 2026
08:01 WITA

UNG Siapkan Lulusan Go Global, Perkuat Kerja Sama Pelatihan Calon Pekerja Migran Indonesia

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Peluang berkarier di luar negeri kini semakin terbuka bagi lulusan Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Melalui kerja sama dengan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) melalui Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Sulawesi Utara, UNG memperkuat langkah menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang memiliki keterampilan, kemampuan bahasa asing, dan pemahaman tentang pelindungan pekerja migran.Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara UNG dan KemenP2MI/BP2MI melalui BP3MI Sulawesi Utara, Senin (12/10/2026). Penandatanganan dilakukan langsung oleh Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., IPU, ASEAN Eng., dan Kepala BP3MI Sulawesi Utara, AKBP Hendrick Situmorang, S.H., S.I.K., M.Si.Kerja sama ini difokuskan pada penguatan kapasitas dan keterampilan calon pekerja migran terdidik asal Gorontalo. Melalui program prioritas SMK Go Global, UNG dipersiapkan menjadi pusat pelatihan intensif bahasa asing sekaligus pembekalan kompetensi kerja agar calon pekerja migran memiliki kesiapan yang lebih baik sebelum memasuki pasar kerja internasional.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, ST., MT.,menegaskan bahwa peluang kerja global perlu ditangkap secara strategis, terutama di tengah bonus demografi Indonesia. Sejumlah negara, seperti Jepang, Korea Selatan, Selandia Baru, Australia, hingga negara-negara Eropa, menghadapi tantangan penuaan penduduk dan kebutuhan tenaga kerja produktif. Kondisi tersebut membuka peluang bagi tenaga kerja Indonesia yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan negara tujuan.“Perguruan tinggi memiliki peran penting untuk memastikan lulusan tidak hanya mengantongi ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan praktis, kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja yang berbeda,” ungkapnya.Untuk mendukung program tersebut, UNG akan mengoptimalkan fasilitas Unit Pelaksana Akademik (UPA) Bahasa sebagai sarana penguatan kemampuan bahasa asing. Selain itu, fasilitas Rumah Susun Mahasiswa (Rusunawa) UNG direncanakan dapat dimanfaatkan sebagai pusat pelatihan terpadu untuk mendukung pelaksanaan program.Melalui dukungan fasilitas dan kolaborasi antarlembaga, program ini diharapkan dapat membantu mempersiapkan calon pekerja migran yang profesional, kompetitif, dan memahami hak serta mekanisme pelindungan hukum selama bekerja di luar negeri. Aspek keselamatan, prosedur penempatan yang sesuai ketentuan, dan pemahaman terhadap negara tujuan menjadi bagian penting agar peluang kerja internasional dapat dimanfaatkan secara bertanggung jawab.“Kerja sama ini sekaligus memperluas peran UNG dalam menyiapkan lulusan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin terbuka. Kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang pengembangan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja global,” ujar Rektor.Melalui kemitraan tersebut, UNG berharap semakin banyak putra-putri Gorontalo yang mampu bersaing di tingkat internasional dengan bekal pendidikan, keterampilan, dan pemahaman pelindungan yang memadai. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen UNG untuk memperluas kesempatan lulusan, memperkuat daya saing sumber daya manusia, dan menghadirkan dampak pendidikan tinggi yang lebih luas bagi masyarakat.

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6
12 Oct 2026
01:43 WITA

Raih Prestasi Gold Medal dan Best Paper, Mahasiswa Fakultas Teknik UNG Bersinar di Idea Fest 6

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Dua mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa gagasan, yang dikembangkan melalui proses akademik mampu bersaing dan mendapat pengakuan di tingkat nasional. Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti, mahasiswa Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik (FT) UNG, berhasil meraih Gold Medal sekaligus penghargaan Best Paper pada ajang Idea Fest 6 yang diselenggarakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), 10–11 Oktober 2026, di Malang.Prestasi tersebut diraih pada subtema Pariwisata dan Budaya. Raihan dua penghargaan sekaligus menjadi pencapaian membanggakan karena tidak hanya menunjukkan keberhasilan tim dalam kompetisi, tetapi juga menegaskan pengakuan terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang mereka hasilkan.Gold Medal menjadi apresiasi atas capaian dalam kompetisi, sementara penghargaan Best Paper menunjukkan bahwa karya yang diusung memiliki kualitas penulisan ilmiah yang mendapat pengakuan dari penyelenggara. Prestasi ini sekaligus memperlihatkan kemampuan mahasiswa Teknik Industri UNG dalam mengembangkan gagasan analitis dan inovatif pada isu yang melampaui bidang keilmuan mereka.Keberhasilan Adelia dan Haida tidak terlepas dari persiapan dan pendampingan akademik yang mereka jalani. Keduanya merupakan mahasiswa bimbingan Idham Halid Lahay, S.T., M.Sc., yang mendampingi proses pengembangan gagasan hingga persiapan mengikuti kompetisi.Pendampingan dosen menjadi bagian penting dalam mempertajam ide, memperkuat substansi karya, serta mempersiapkan mahasiswa menyampaikan gagasan secara ilmiah. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa proses pembelajaran di perguruan tinggi dapat berkembang menjadi karya nyata yang memperoleh apresiasi di luar lingkungan kampus.Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UNG, Prof. Dr. Mohamad Amir Arham, M.E., menyampaikan apresiasi atas pencapaian kedua mahasiswa tersebut beserta peran dosen pembimbing. Menurutnya, prestasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat budaya akademik yang mendorong mahasiswa untuk aktif berkarya, mengikuti kompetisi, dan mengembangkan kemampuan komunikasi ilmiah.Ia berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya, agar semakin percaya diri membawa gagasan dan karya mereka ke berbagai forum kompetitif.“Penghargaan yang diraih melalui proses pembimbingan akademik juga menunjukkan pentingnya lingkungan kampus, dalam menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan kreativitas,” terangnya.Raihan Gold Medal dan Best Paper oleh Adelia Syafarusi Sahadat dan Haida Arianti menjadi kebanggaan bagi fakultas dan juga universitas. Prestasi ini diharapkan menjadi pemantik bagi lahirnya lebih banyak karya mahasiswa yang inovatif, berkualitas, dan mampu memberikan kontribusi melalui forum akademik di tingkat nasional maupun internasional. (**)

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University
12 Oct 2026
00:48 WITA

Perkuat Kelimuan Arsitektur dan Teknologi Bangunan, Dosen UNG Tempuh Doktor Double Degree di ITB dan Loughborough University

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Kesempatan menimba ilmu di dua perguruan tinggi, Indonesia dan Inggris, menjadi langkah penting bagi Abdi Gunawan Djafar, dosen Universitas Negeri Gorontalo (UNG), dalam memperdalam keilmuan sekaligus memperluas pengalaman riset bertaraf internasional. Dosen Jurusan S1 Arsitektur dan Program Studi D-IV Arsitektur Bangunan Gedung tersebut kini tengah menempuh pendidikan doktor melalui program Double Degree hasil kolaborasi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Loughborough University (LU), Inggris.Pendidikan doktoral Abdi didukung beasiswa Program Doktor untuk Dosen Indonesia (PDDI) skema Double Degree dari kementerian terkait, dengan pendanaan penuh. Program ini dirancang selama tiga tahun atau 36 bulan, dengan pembagian masa studi dan riset di kedua institusi untuk memberikan pengalaman akademik lintas lingkungan pendidikan dan penelitian.Memulai studi doktoral pada 2025, Abdi menjalani perkuliahan dan pendalaman teori selama 12 bulan di ITB. Tahap berikutnya adalah riset intensif selama 18 bulan di School of Architecture, Building and Civil Engineering, Loughborough University. Setelah itu, ia dijadwalkan kembali ke ITB selama enam bulan untuk menuntaskan tahap akhir penyusunan disertasi.Dalam pendidikan doktoralnya, Abdi memusatkan perhatian pada bidang Sains dan Teknologi Bangunan. Penelitian ini dibimbing oleh tim promotor dari ITB dan Loughborough University, sehingga membuka ruang untuk mengintegrasikan perspektif keilmuan, pendekatan penelitian, dan pengalaman akademik dari dua institusi.Bagi Abdi, kesempatan tersebut tidak sekadar menjadi pencapaian akademik pribadi. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama studi di Indonesia dan Inggris diharapkan dapat dibawa kembali ke kampus untuk memperkuat pembelajaran dan penelitian di Fakultas Teknik UNG, khususnya pada bidang arsitektur dan teknologi bangunan.Pengalaman belajar di dua lingkungan akademik juga menjadi peluang untuk memperluas jejaring riset dan mengenal pendekatan pengembangan ilmu pengetahuan dalam konteks internasional. Bekal tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan materi pembelajaran, peningkatan kualitas penelitian, serta terbukanya peluang kolaborasi akademik yang lebih luas bagi sivitas akademika UNG.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., mengapresiasi keikutsertaan Abdi dalam program doktoral Double Degree. Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan lanjut di perguruan tinggi terkemuka menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualifikasi dan kompetensi dosen, yang pada akhirnya harus bermuara pada penguatan mutu pendidikan dan pengembangan institusi.Eduart menekankan bahwa kompetensi yang diperoleh dosen melalui pendidikan doktoral diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi dapat ditransfer melalui kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi ilmiah, dan berbagai aktivitas akademik yang memberikan manfaat bagi mahasiswa serta pengembangan program studi.“Keikutsertaan Abdi Gunawan Djafar dalam program doktoral Double Degree menjadi salah satu langkah pengembangan sumber daya manusia UNG melalui pendidikan bertaraf internasional,” ujar Eduart.Dengan penguatan kompetensi dosen dan perluasan jejaring akademik, UNG terus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang inovatif, kolaboratif, dan kompetitif sebagai bagian dari upaya mewujudkan universitas yang unggul dan berdaya saing.

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026
08 Oct 2026
03:41 WITA

Ratri Rahmatya Hiola, Mahasiswa FEB UNG, Tampil di World Economic & Leadership Forum 2026

Rachmad Hidayah

Denpasar — Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratri Rahmatya Hiola, menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia bagian timur yang tampil sebagai presenter sekaligus Impact Delegate pada World Economic & Leadership Forum (WELF) 2026.Forum internasional yang diselenggarakan oleh Sustainable Development League bekerja sama dengan Warmadewa University tersebut berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Denpasar, Bali. WELF 2026 mempertemukan generasi muda dari berbagai negara, di antaranya Rusia, Malaysia, Vietnam, Bangladesh, Uzbekistan, London, Papua Nugini, dan Indonesia, untuk membahas berbagai isu strategis terkait ekonomi global, teknologi, rekonstruksi, perubahan iklim, serta kepemimpinan generasi muda.Dalam forum tersebut, Ratri membawa nama Universitas Negeri Gorontalo dan berpartisipasi dalam berbagai rangkaian diskusi sebagai Impact Delegate. Kehadirannya menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa UNG dalam membawa perspektif akademik ke ruang diskusi internasional yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang dan negara.Tidak hanya mengikuti rangkaian forum, Ratri juga berkesempatan mempresentasikan proyek bertajuk “Youth Economic Policy Lab: Building Economic Resilience in an Uncertain Global Environment.” Gagasan tersebut merupakan inisiatif berbasis kepemudaan yang dirancang untuk menghubungkan economic research, policy dialogue, dan youth engagement dalam membangun pemahaman serta pemikiran kebijakan ekonomi yang lebih responsif terhadap ketidakpastian global.Melalui Youth Economic Policy Lab, mahasiswa dan generasi muda diarahkan untuk memahami berbagai persoalan ekonomi melalui pendekatan berbasis data. Gagasan tersebut juga membuka ruang bagi generasi muda untuk berdiskusi bersama akademisi dan praktisi, sekaligus menerjemahkan hasil kajian menjadi gagasan serta rekomendasi yang lebih mudah dipahami masyarakat.“Youth Economic Policy Lab saya gagas sebagai ruang yang menghubungkan penelitian ekonomi dengan diskusi kebijakan dan keterlibatan anak muda. Saya melihat bahwa generasi muda tidak hanya perlu memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan mereka, tetapi juga perlu memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan dan terlibat dalam pembahasan isu ekonomi,” ujar Ratri.Gagasan yang dibawa Ratri dalam forum tersebut turut berangkat dari pengalaman akademiknya dalam melakukan penelitian mengenai kebijakan fiskal dan Foreign Direct Investment (FDI) di negara-negara ASEAN+3 periode 2010–2023.Penelitian tersebut menjadi salah satu pijakan dalam melihat bagaimana data dan riset ekonomi dapat dimanfaatkan untuk memahami hubungan antara kebijakan fiskal, kondisi makroekonomi, dan investasi dalam menghadapi berbagai ketidakpastian ekonomi global.Melalui proyek tersebut, Ratri menekankan bahwa economic resilience tidak hanya berkaitan dengan kemampuan suatu negara menghadapi guncangan ekonomi. Menurutnya, ketahanan ekonomi juga membutuhkan kebijakan yang kredibel, kapasitas fiskal yang kuat, investasi produktif, serta keterlibatan masyarakat dan generasi muda dalam memahami berbagai persoalan ekonomi.“Pengalaman mengikuti WELF membuat saya melihat bahwa persoalan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu kebijakan atau satu indikator. Ketahanan ekonomi membutuhkan kombinasi antara kebijakan yang baik, institusi yang kuat, investasi produktif, dan keterlibatan berbagai pihak. Di sinilah saya melihat ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi melalui riset, dialog, dan aksi,” lanjut Ratri.Keikutsertaan dalam WELF 2026 diharapkan dapat menjadi ruang bagi Ratri untuk terus mengembangkan gagasan Youth Economic Policy Lab, khususnya sebagai wadah pembelajaran dan diskusi bagi mahasiswa dalam memahami isu ekonomi dan kebijakan publik secara lebih kritis serta berbasis bukti.Partisipasi tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa FEB UNG dalam memperluas jejaring akademik dan membawa perspektif Universitas Negeri Gorontalo ke dalam forum internasional. Kehadiran Ratri juga menunjukkan peran mahasiswa UNG dalam mengambil bagian pada diskusi mengenai ekonomi, pembangunan, dan tantangan global yang semakin kompleks.

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026
08 Oct 2026
02:25 WITA

Dari UNG untuk Indonesia, Mahasiswa dan Alumni FOK UNG Persembahkan Medali di Asian Games 2026

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) di panggung olahraga internasional. Mahasiswa dan alumni Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK) UNG turut berkontribusi, mempersembahkan medali bagi Indonesia pada ajang Asian Games 2026 melalui cabang olahraga sepak takraw.Tiga insan olahraga yang memiliki keterkaitan dengan FOK UNG, tampil membawa nama Indonesia di kompetisi olahraga terbesar di Asia tersebut. Mereka adalah mahasiswa UNG Jelki Ladada, serta dua alumni Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina.Jelki Ladada berhasil mencatatkan prestasi dengan menyumbangkan medali perak dan perunggu untuk kontingen Indonesia. Sementara itu, dua alumni FOK UNG, Gelvin Usman dan Rizki Yusuf Djaina, masing-masing turut mempersembahkan medali perunggu bagi Merah Putih.Raihan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi UNG, khususnya Fakultas Olahraga dan Kesehatan. Prestasi para atlet tidak hanya menunjukkan kemampuan mereka bersaing di tingkat Asia, tetapi juga menjadi gambaran kontribusi pendidikan dan pembinaan olahraga di lingkungan kampus.Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., menyampaikan apresiasi atas pencapaian mahasiswa dan alumni Jurusan Pendidikan Kepelatihan dan Olahraga FOK UNG tersebut. Menurutnya, keberhasilan membawa pulang medali dari Asian Games merupakan pencapaian luar biasa yang membanggakan seluruh sivitas akademika UNG.“Keberhasilan meraih medali perak dan perunggu pada cabang olahraga sepak takraw merupakan sebuah pencapaian luar biasa dan membanggakan, khususnya bagi sivitas akademika UNG,” ungkap Eduart.Menurut Rektor, prestasi tersebut sekaligus memperlihatkan kualitas pembinaan olahraga yang terus dikembangkan FOK UNG. Cabang olahraga sepak takraw menjadi salah satu bidang, yang menunjukkan kontribusi nyata melalui kiprah mahasiswa dan alumni di tingkat internasional.“Capaian Jelki, Gelvin, dan Rizki menjadi bukti bahwa perjalanan seorang atlet tidak berhenti ketika meninggalkan ruang kelas. Dari kampus, mereka membawa bekal pendidikan, pembinaan, dan pengalaman untuk kemudian tampil di panggung Asia dengan membawa nama Indonesia,” terangnya.Prestasi tersebut diharapkan semakin memotivasi mahasiswa UNG untuk mengembangkan potensi, baik di bidang akademik maupun olahraga. Di sisi lain, capaian ketiga atlet tersebut menjadi bentuk komitmen UNG dalam membina atlet terbaik, khususnya dalam olahraga sepaktakraw untuk kemudian berkompetisi dan menghadirkan prestasi bagi Indonesia khususnya di tingkat internasional.

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini
08 Oct 2026
00:19 WITA

Pendekatan Berbasis Ekosistem untuk Pengelolaan Cumi-Cumi di Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Teluk Tomini menyimpan potensi perikanan yang besar, termasuk sumber daya cumi-cumi (Loligo spp.) yang menjadi salah satu komoditas penting bagi masyarakat pesisir. Namun, di balik potensi tersebut, keberlanjutan sumber daya cumi-cumi menghadapi sejumlah tantangan. Penelitian Universitas Negeri Gorontalo (UNG) menunjukkan adanya kecenderungan penurunan hasil tangkapan yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perikanan di kawasan Teluk Tomini.Penelitian bertajuk “Integration of ecosystem approach in Loligo spp. resource management in Tomini Bay” dilakukan oleh Yuniarti Koniyo, Abdul H. Olii, Wila R. Nento, dan Muhammad R. Gobel. Penelitian tersebut mengkaji status pengelolaan perikanan cumi-cumi dengan menggunakan pendekatan Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dan Flag Model. Pendekatan ini tidak hanya melihat kondisi sumber daya ikan, tetapi juga mempertimbangkan aspek habitat, teknologi penangkapan, sosial, ekonomi, serta kelembagaan.Salah satu temuan penting penelitian terlihat dari perubahan Catch Per Unit Effort (CPUE), yaitu jumlah hasil tangkapan yang diperoleh dalam setiap satuan upaya penangkapan. Data menunjukkan CPUE cumi-cumi di Teluk Tomini turun dari 21,78 kg per perjalanan pada 2019 menjadi 17,02 kg per perjalanan pada 2023. Pada periode yang sama, produksi cumi-cumi juga mengalami penurunan, dari sekitar 4,79 juta kilogram pada 2019 menjadi 3,72 juta kilogram pada 2023.Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa tekanan terhadap sumber daya cumi-cumi perlu diperhatikan. Penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan aktivitas penangkapan belum selalu menghasilkan tangkapan yang lebih tinggi. Kondisi ini dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan penangkapan maupun perubahan lingkungan yang memengaruhi ketersediaan cumi-cumi di perairan.Dari sisi teknologi, nelayan di kawasan Teluk Tomini menggunakan sejumlah alat tangkap, dengan pancing cumi dan circle gill net menjadi alat yang dominan di beberapa wilayah. Penelitian menilai teknologi penangkapan yang digunakan relatif selektif, meskipun risiko tertangkapnya spesies non-target masih ada. Karena itu, peningkatan selektivitas alat tangkap tetap diperlukan agar pemanfaatan sumber daya dapat berlangsung lebih berkelanjutan.Tantangan pengelolaan juga berkaitan dengan kondisi habitat. Penelitian mencatat adanya kerusakan ekosistem terumbu karang akibat aktivitas manusia, termasuk praktik penangkapan yang merusak. Padahal, kondisi habitat memiliki hubungan penting dengan keberadaan dan keberlanjutan sumber daya perikanan. Perubahan lingkungan dan dampak perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pengelolaan Teluk Tomini.Persoalan keberlanjutan tidak berhenti pada aspek ekologi. Penelitian menemukan bahwa kondisi ekonomi rumah tangga nelayan cumi-cumi masih relatif rendah, dengan pendapatan yang dalam banyak kasus berada di bawah upah minimum provinsi. Kepemilikan aset produktif dan kemampuan menabung juga masih terbatas. Di sisi sosial, partisipasi berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan dinilai tinggi, tetapi konflik antara nelayan maupun antara nelayan dan pemerintah masih terjadi.Hasil penilaian enam domain EAFM menunjukkan nilai rata-rata pengelolaan sebesar 58 yang masuk kategori sedang. Domain teknologi penangkapan dan sosial memperoleh kategori baik, sementara sumber daya ikan dan aspek ekonomi masih berada pada kategori kurang. Aspek kelembagaan juga memerlukan penguatan, terutama karena belum adanya rencana pengelolaan perikanan Teluk Tomini yang secara khusus diterapkan sebagai dasar pengelolaan bersama.Temuan tersebut menegaskan bahwa menjaga keberlanjutan cumi-cumi di Teluk Tomini membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Peneliti merekomendasikan penggunaan alat tangkap yang semakin selektif, rehabilitasi ekosistem, peningkatan kesejahteraan nelayan, serta penguatan kerja sama antarlembaga dan keterlibatan para pemangku kepentingan.Dengan pendekatan berbasis ekosistem, pengelolaan cumi-cumi tidak hanya diarahkan untuk mempertahankan hasil tangkapan, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan memastikan sumber daya tersebut tetap dapat dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir dalam jangka panjang.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas
06 Oct 2026
05:07 WITA

Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi Raih Akreditasi Unggul, Tegaskan Komitmen Pendidikan Kesehatan Berkualitas

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Komitmen Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dalam menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas membuahkan hasil membanggakan. Dua program studi (Prodi) di Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK), yakni Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat (Kesmas) dan Program Studi D3 Farmasi, berhasil meraih predikat Akreditasi Unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Pendidikan Tinggi Kesehatan (LAM-PTKes).Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi FOK UNG, sekaligus menegaskan konsistensi fakultas dalam menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan di bidang kesehatan. Predikat Unggul menjadi pengakuan atas kualitas pendidikan dan pembelajaran yang dimiliki, tata kelola program studi, serta pengembangan kompetensi lulusan.Dekan FOK UNG, Dr. Hartono Hadjarati, M.Pd., menyambut capaian tersebut dengan penuh apresiasi. Menurutnya, keberhasilan meraih Akreditasi Unggul merupakan hasil kerja bersama, seluruh sivitas akademika yang terus berkomitmen menjaga standar mutu pendidikan.“Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen seluruh sivitas akademika dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kualitas pembelajaran, memperkuat tata kelola program studi, serta menghasilkan lulusan bidang ilmu kesehatan yang kompeten, profesional, dan siap berkontribusi bagi masyarakat,” ungkap Hartono.Ia menegaskan, predikat Unggul bukan menjadi titik akhir, melainkan momentum untuk semakin memperkuat budaya mutu dan mendorong inovasi di lingkungan kedua program studi. Capaian tersebut diharapkan menjadi energi baru, bagi Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan Prodi D3 Farmasi untuk terus berkembang serta meningkatkan daya saing.Apresiasi juga disampaikan Rektor UNG, Prof. Dr. Ir. Eduart Wolok, S.T., M.T., kepada seluruh sivitas akademika FOK yang telah memberikan kontribusi terhadap pencapaian tersebut. Menurutnya, Akreditasi Unggul menunjukkan bahwa kualitas kedua program studi, telah memperoleh pengakuan dan mampu disejajarkan dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia.“Akreditasi Unggul merupakan pengakuan bahwa kualitas kedua prodi tersebut, telah sejajar dengan perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Capaian ini adalah buah dari dedikasi berbagai pihak, yang terus berkontribusi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di UNG,” ujar Eduart.Eduart menambahkan, capaian akreditasi tersebut sekaligus memperkuat komitmen UNG untuk menghadirkan pendidikan tinggi yang berkualitas, adaptif, dan berdaya saing. Pengakuan ini diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika untuk menjaga konsistensi mutu, dan terus memberikan layanan pendidikan terbaik kepada masyarakat.Dengan diraihnya predikat Unggul oleh Prodi S1 Kesehatan Masyarakat dan D3 Farmasi, FOK UNG kini memiliki modal penting untuk melangkah lebih jauh. Capaian tersebut menjadi pijakan untuk terus berinovasi, memperkuat kualitas lulusan, dan menghadirkan kontribusi nyata pendidikan kesehatan bagi masyarakat. (**)

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu
06 Oct 2026
01:42 WITA

Mahasiswa KKN UNG Kenalkan Pirolisis, Ubah Sampah Plastik Jadi Peluang Edukasi Energi di Desa Luhu

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Tumpukan sampah plastik yang selama ini dipandang sebagai persoalan lingkungan mulai dilihat dari sudut pandang berbeda oleh mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) Tahun 2026. Melalui kegiatan edukasi dan demonstrasi di Desa Luhu, mahasiswa memperkenalkan teknologi pirolisis sebagai salah satu alternatif pengolahan sampah plastik sekaligus mengajak masyarakat memperkuat kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya.Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal bagaimana plastik tertentu dapat diolah melalui proses pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas. Dalam proses pirolisis, uap yang dihasilkan kemudian didinginkan hingga membentuk cairan yang dikenal sebagai minyak pirolisis.Mahasiswa KKN juga menjelaskan bahwa hasil pengolahan tidak hanya ditentukan oleh proses pemanasan, tetapi turut dipengaruhi oleh jenis plastik, kondisi proses, hingga penanganan produk dan residu yang dihasilkan. Karena itu, teknologi pirolisis diperkenalkan bukan sebagai solusi tunggal persoalan sampah, melainkan sebagai bagian dari edukasi dan penjajakan teknologi yang perlu dilakukan secara tepat dan aman.Koordinator Desa KKN, Haikal, mengatakan bahwa perubahan dalam pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh masyarakat.“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari langkah sederhana, terutama pemilahan. Teknologi pengolahan perlu dijalankan secara aman dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.Dalam edukasi tersebut, mahasiswa turut menekankan bahwa minyak pirolisis tidak dapat langsung dianggap setara dengan bahan bakar seperti bensin atau solar. Pemanfaatannya membutuhkan pengujian mutu, penilaian emisi, pengelolaan residu, serta perhatian terhadap aspek keselamatan.Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan kegiatan KKN sebagai ruang untuk membangun pemahaman masyarakat secara lebih utuh. Sebelum berbicara mengenai teknologi pengolahan, masyarakat diajak terlebih dahulu memahami pentingnya mengurangi penggunaan plastik dan memilah sampah agar jenis sampah yang terkumpul dapat dikelola sesuai karakteristiknya.Melalui KKN Tematik Infrastruktur 2026, mahasiswa berharap kegiatan ini dapat membuka ruang diskusi yang lebih luas antara masyarakat dan pemerintah Desa Luhu mengenai sistem pengumpulan sampah plastik, pilihan teknologi yang sesuai, serta langkah tindak lanjut yang dapat dikelola secara berkelanjutan. (**)

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan
05 Oct 2026
01:13 WITA

Sirup Sorgum Manis, Dari Batang Tanaman Menjadi Pemanis Fungsional untuk Pangan Berkelanjutan

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO – Batang sorgum manis ternyata menyimpan potensi lebih dari sekadar bagian tanaman. Melalui kajian ilmiah, peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) bersama peneliti dari sejumlah institusi mengungkap peluang pemanfaatan batang sorgum menjadi sirup alami yang tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan fungsional dalam berbagai produk pangan.Potensi tersebut dibahas dalam artikel review berjudul Sweet sorghum (Sorghum bicolor var. saccharatum (L.) Mohlenbr.) syrup: sustainable food upcycling and functional enhancement in animal products yang diterbitkan dalam Discover Food Volume 5 Tahun 2025.Dalam kajian tersebut, Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok dari Universitas Negeri Gorontalo turut berkontribusi bersama peneliti dari sejumlah institusi lainnya. Artikel ini merangkum berbagai hasil penelitian mengenai sirup sorgum manis, mulai dari proses produksi, komposisi nutrisi dan senyawa fenolik, hingga pemanfaatannya dalam pengembangan produk pangan berbasis susu, daging, maupun bakery.Kajian ini sekaligus menempatkan pemanfaatan sirup sorgum dalam perspektif food upcycling, yaitu upaya meningkatkan nilai guna suatu sumber daya pangan melalui pengolahan menjadi produk yang memiliki nilai tambah. Dalam konteks sorgum manis, batang tanaman yang mengandung sari manis dapat diekstraksi, dijernihkan, kemudian melalui proses evaporasi untuk menghasilkan sirup.Pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk pangan berbasis hasil pertanian sekaligus mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pemanfaatan sumber daya.Tidak Hanya Menghasilkan Rasa ManisMenariknya, sirup sorgum tidak hanya memiliki kandungan gula yang memberikan rasa manis. Berdasarkan berbagai penelitian yang dirangkum dalam kajian, sirup sorgum mengandung karbohidrat, protein, mineral, serta sejumlah senyawa fenolik.Kandungan tersebut dapat berbeda bergantung pada varietas sorgum, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan. Sirup sorgum juga mengandung glukosa, fruktosa, dan sukrosa, dengan tingkat kemanisan yang dilaporkan sekitar 66–88 persen dibandingkan sukrosa.Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah keberadaan senyawa fenolik, antara lain asam ferulat, asam kafeat, p-kumarat, dan sinapat. Berbagai senyawa tersebut menjadi bagian dari karakter sirup sorgum yang menarik untuk dikaji lebih lanjut karena berkaitan dengan potensi aktivitas antioksidan dan fungsi tambahan dalam produk pangan.Berpeluang Dikembangkan pada Beragam Produk PanganKajian yang dilakukan menunjukkan bahwa sirup sorgum telah diteliti dalam berbagai formulasi pangan. Pada produk berbasis daging, misalnya, penggunaan sirup sorgum pada sosis dilaporkan dapat membantu memperlambat oksidasi lipid selama penyimpanan. Komponen sirup juga berpotensi berinteraksi dengan protein dan memengaruhi sifat gel serta tekstur produk.Sementara itu, pada produk berbasis susu, sirup sorgum telah dikaji dalam pengembangan soft ice cream. Hasil penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa produk hasil reaksi Maillard dapat memengaruhi karakter fisik dan kimia es krim, termasuk tekstur dan kapasitas antioksidannya.Potensi serupa juga terlihat pada produk bakery. Salah satu penelitian yang dirangkum menunjukkan bahwa penggunaan hingga 20 persen sirup sorgum sebagai pengganti gula dalam pembuatan kue masih mampu mempertahankan tinggi, volume, dan tekstur produk. Hasil pengujian sensori juga tidak menunjukkan perbedaan rasa yang signifikan dibandingkan kue berbahan gula biasa.Selain itu, sirup sorgum telah dikaji dalam berbagai produk lain, seperti kukis, biskuit, roti manis, permen, dan toffee. Temuan tersebut memperlihatkan luasnya peluang pengembangan sirup sorgum dalam inovasi formulasi pangan.Pentingnya Pengendalian Proses PengolahanMeskipun menawarkan berbagai peluang, kajian tersebut juga menekankan pentingnya pengendalian selama proses pengolahan, terutama terkait reaksi Maillard.Reaksi antara gula dan protein selama pemanasan berperan dalam pembentukan warna, aroma, dan cita rasa makanan. Dalam kondisi yang terkendali, reaksi tersebut dapat memberikan karakter yang diinginkan pada produk. Namun, pemanasan yang berlebihan berpotensi menghasilkan senyawa yang tidak diinginkan.Karena itu, pengaturan suhu dan waktu pemrosesan menjadi aspek penting dalam pengembangan produk pangan berbasis sirup sorgum.Memperkuat Pemanfaatan Sumber Daya PertanianKontribusi Agus Bahar Rachman dan Eduart Wolok bersama peneliti lainnya dalam kajian tersebut memperkaya pembahasan mengenai peluang pemanfaatan sorgum manis sebagai bahan pangan bernilai tambah.Kajian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sorgum dapat diarahkan tidak hanya pada hasil bijinya, tetapi juga pada bagian batang melalui pengolahan menjadi sirup. Pendekatan tersebut sejalan dengan upaya mengoptimalkan sumber daya pertanian sekaligus mendorong inovasi produk pangan yang lebih berkelanjutan.Bagi pengembangan pangan berbasis bahan lokal, sirup sorgum memiliki peluang untuk terus dikaji, terutama dalam menentukan formulasi, kondisi pengolahan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Melalui kajian tersebut, sorgum manis menunjukkan potensi sebagai salah satu sumber bahan pangan alternatif yang dapat dikembangkan lebih jauh. Dari batang tanaman yang sederhana, terbuka peluang menghadirkan produk pemanis sekaligus bahan fungsional yang dapat digunakan dalam berbagai inovasi pangan.Kontribusi peneliti UNG dalam kajian tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil penelitian untuk mendukung inovasi pangan, peningkatan nilai tambah sumber daya pertanian, serta pengembangan pangan yang lebih berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikaskan Melalui Laman Berikut

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang
05 Oct 2026
00:32 WITA

Buah Mangrove Jadi Pengawet Alami, Inovasi UNG untuk Menjaga Mutu Ikan Cakalang

Abdul Wahid Rauf

Mangrove selama ini dikenal sebagai benteng alami yang melindungi kawasan pesisir dari abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota laut. Namun, di balik fungsi ekologisnya, tanaman mangrove ternyata menyimpan potensi lain yang menarik untuk dikembangkan, khususnya dalam pengolahan hasil perikanan.Potensi tersebut terungkap melalui penelitian yang dilakukan oleh Risky S. Maulanan, Lukman Mile, dan Fernandy M. Djailani dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo. Penelitian mereka mengkaji pemanfaatan buah mangrove Rhizophora mucronata sebagai bahan pengawet alami untuk menjaga kualitas fillet ikan cakalang (Katsuwonus pelamis).Penelitian yang diterbitkan dalam Applied Environmental Science Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 tersebut berjudul “Effectiveness of Water Extract of Mangrove Fruit Flour (Rhizophora mucronata) as a Natural Preservative in Skipjack Fish Fillets (Katsuwonus pelamis)”.Dari Hutan Mangrove ke Teknologi Pengawetan IkanGagasan penelitian ini berangkat dari dua potensi yang dimiliki Gorontalo, yakni kekayaan ekosistem mangrove dan besarnya potensi perikanan tangkap, terutama ikan cakalang.Ikan cakalang merupakan salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomi, tetapi seperti produk ikan segar lainnya, kualitasnya relatif mudah mengalami penurunan. Aktivitas mikroorganisme menjadi salah satu faktor yang dapat mempercepat kerusakan ikan sehingga diperlukan teknologi penanganan pascapanen yang mampu mempertahankan mutu produk.Di sisi lain, buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung sejumlah senyawa bioaktif. Para peneliti kemudian mengeksplorasi kemungkinan pemanfaatannya sebagai sumber bahan pengawet alami.Dalam penelitian tersebut, buah mangrove dikeringkan dan diolah menjadi tepung. Tepung kemudian diekstraksi menggunakan air melalui proses pemanasan pada suhu 70°C selama 30 menit. Ekstrak yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk merendam fillet ikan cakalang.Peneliti menguji beberapa lama waktu perendaman, yakni 10, 12, dan 14 jam. Kualitas ikan kemudian diamati melalui sejumlah parameter, antara lain penilaian organoleptik, pH, serta Total Plate Count (TPC) untuk mengetahui jumlah mikroorganisme yang terdapat pada ikan setelah perlakuan.Senyawa Alami yang Menahan Pertumbuhan BakteriHasil uji fitokimia memberikan petunjuk penting. Ekstrak tepung buah Rhizophora mucronata diketahui mengandung alkaloid dan triterpenoid.Kedua kelompok senyawa tersebut dikaitkan dengan aktivitas antibakteri sehingga berpotensi membantu menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk pada bahan pangan. Temuan inilah yang menjadi salah satu dasar pemanfaatan ekstrak buah mangrove sebagai bahan pengawet alami pada fillet ikan cakalang.Salah satu indikator yang menarik terlihat dari hasil pengujian TPC. Pada ikan yang tidak mendapatkan perlakuan perendaman, nilai TPC tercatat sekitar 27,09 × 10³. Setelah direndam selama 10 jam, nilainya turun menjadi 15,39 × 10³.Penurunan lebih lanjut terlihat pada perendaman selama 12 jam, dengan nilai TPC mencapai 8,38 × 10³. Sementara itu, pada perendaman selama 14 jam, nilai TPC tercatat 10,82 × 10³.Data tersebut menunjukkan adanya kemampuan ekstrak buah mangrove dalam menahan pertumbuhan bakteri. Nilai TPC terendah dalam penelitian justru ditemukan pada perlakuan perendaman selama 12 jam.Tidak Hanya Bakteri, Mutu Ikan Juga DiamatiPengawetan bahan pangan tentu tidak hanya berbicara mengenai jumlah bakteri. Karakteristik yang dapat dilihat dan dirasakan konsumen juga menjadi bagian penting dalam menentukan kualitas produk. Karena itu, penelitian turut mengamati penampakan, aroma, dan tekstur fillet ikan.Pada parameter aroma, ikan yang mendapat perlakuan perendaman masih menunjukkan karakteristik aroma yang relatif segar. Peneliti mengaitkan kondisi tersebut dengan keberadaan senyawa antibakteri dalam ekstrak mangrove yang dapat membantu menghambat aktivitas mikroorganisme penyebab penurunan mutu.Namun, lama perendaman tetap perlu diperhatikan. Pada parameter tekstur, terjadi perubahan antara ikan tanpa perlakuan dan ikan yang direndam selama 10, 12, maupun 14 jam. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan ekstrak alami sebagai bahan pengawet tetap membutuhkan pengaturan waktu yang tepat agar efektivitas pengawetan tidak mengorbankan karakteristik fisik produk.Sementara itu, hasil pengukuran pH berada pada kisaran 5,46–6,04 dan menunjukkan kecenderungan menurun seiring bertambahnya lama perendaman. Dalam penelitian tersebut, seluruh perlakuan berada pada kondisi asam.Menjaga Ikan, Memanfaatkan Potensi LokalTemuan penelitian ini menarik bukan semata-mata karena buah mangrove dapat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri. Lebih jauh, penelitian tersebut memperlihatkan bagaimana sumber daya lokal dapat dihubungkan dengan kebutuhan teknologi pengolahan hasil perikanan.Gorontalo memiliki kawasan mangrove sekaligus potensi perikanan tangkap yang besar. Menghubungkan kedua sumber daya tersebut melalui penelitian membuka peluang lahirnya inovasi yang berbasis pada kekayaan lokal.Pemanfaatan bahan alami juga dapat menjadi salah satu arah pengembangan teknologi pengawetan yang lebih berkelanjutan. Namun, penerapannya tentu tetap membutuhkan kajian lanjutan untuk menentukan formulasi, konsentrasi, waktu perendaman, keamanan pangan, serta karakteristik produk yang paling sesuai.Dalam artikel penelitian tersebut, perendaman selama 10 jam disebut sebagai waktu optimal berdasarkan indikator kualitas organoleptik, aroma, dan tekstur. Sementara hasil pengujian TPC menunjukkan bahwa ekstrak tetap memiliki kemampuan menahan pertumbuhan bakteri hingga periode perendaman yang lebih panjang.Pada bagian kesimpulan, penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak buah Rhizophora mucronata dapat memberikan daya tahan hingga 14 jam berdasarkan parameter aroma. Namun, perubahan penampakan dan tekstur tetap perlu diperhatikan karena berkaitan dengan proses oksidasi kimia.Dari Konservasi ke InovasiPenelitian yang dilakukan para akademisi FKTP UNG ini memberikan gambaran bahwa mangrove tidak hanya penting untuk dipertahankan karena fungsi ekologisnya. Potensi sumber daya yang terkandung di dalamnya juga dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.Pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan pengawet alami mempertemukan dua kepentingan sekaligus: menjaga kualitas hasil perikanan dan mengeksplorasi potensi sumber daya lokal secara lebih bijaksana.Bagi Gorontalo, pendekatan semacam ini membuka ruang pengembangan teknologi pascapanen yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas produk, tetapi juga pada pemanfaatan kekayaan hayati daerah.Pada akhirnya, penelitian ini mengingatkan bahwa inovasi tidak selalu harus datang dari bahan atau teknologi yang jauh dari lingkungan sekitar. Di kawasan pesisir Gorontalo, salah satu jawabannya mungkin justru tumbuh di antara akar-akar mangrove—menunggu untuk diteliti, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara berkelanjutan.Artikel Penelitian Dipublikasikan Melalui Tautan Berikut

Riset FKTP UNG Kembangkan Sosis Ikan Tongkol dengan Penambahan Wortel
30 Sep 2026
10:44 WITA

Riset FKTP UNG Kembangkan Sosis Ikan Tongkol dengan Penambahan Wortel

Abdul Wahid Rauf

Diversifikasi produk hasil perikanan terus dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus menghadirkan produk pangan yang lebih beragam. Salah satunya melalui penelitian yang dilakukan oleh Adhan Labatjo, Rahim Husain, dan Fernandy M. Djailani dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP), Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian berjudul “Pengaruh Penambahan Wortel (Daucus carota L.) terhadap Karakteristik Kimia dan Organoleptik Sosis Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)” tersebut diterbitkan dalam Research Review: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 5 No. 1 Tahun 2026, halaman 330–338, dengan DOI 10.54923/researchreview.v5i1.342.Mengolah Ikan Tongkol Menjadi Produk SosisPenelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kandungan protein ikan tongkol, namun pemanfaatannya masih dinilai kurang beragam. Pengolahan ikan tongkol menjadi sosis menjadi salah satu bentuk diversifikasi produk hasil perikanan.Dalam penelitian tersebut, wortel digunakan sebagai bahan tambahan untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik kimia dan organoleptik sosis, termasuk kadar air, protein, vitamin A, rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026. Proses pembuatan sosis dilakukan di Kelurahan Dulomo Selatan, Kota Gorontalo, sedangkan pengujian kimia dilakukan di Balai Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan (BPPMHP) dan pengujian organoleptik dilaksanakan di FKTP UNG.Tiga Tingkat Penambahan WortelPenelitian utama menggunakan tiga perlakuan penambahan wortel, yaitu 60 gram, 70 gram, dan 80 gram. Ikan tongkol terlebih dahulu dibersihkan, dipisahkan dari tulang dan kulit, kemudian dihaluskan. Wortel juga diolah sesuai perlakuan sebelum dicampurkan dengan daging ikan dan bahan pendukung lainnya. Adonan kemudian dimasukkan ke dalam selongsong sosis dan dikukus hingga matang. Produk yang telah matang selanjutnya didinginkan untuk menjalani pengujian organoleptik dan analisis kimia.Penambahan Wortel Berpengaruh terhadap Mutu SensoriHasil pengujian terhadap 30 panelis menunjukkan bahwa penambahan wortel memberikan pengaruh nyata terhadap tingkat kesukaan pada parameter rasa, aroma, tekstur, dan kenampakan. Pada parameter rasa, skor rata-rata berkisar 5,77–6,73, dengan nilai tertinggi pada penambahan wortel 80 gram sebesar 6,73±1,60.Untuk aroma, nilai tertinggi juga diperoleh perlakuan 80 gram, yaitu 6,87±1,25. Pada tekstur, perlakuan 80 gram memperoleh nilai 6,97±1,33, sedangkan perlakuan 60 gram memperoleh nilai 5,87±1,33. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan adanya pengaruh nyata penambahan wortel terhadap tekstur dengan nilai signifikansi 0,009. Sementara itu, pada parameter kenampakan, nilai tertinggi juga diperoleh perlakuan 80 gram, yaitu 6,77±1,46. Peneliti mencatat bahwa peningkatan jumlah wortel menghasilkan warna oranye alami yang semakin kuat dan lebih disukai panelis.Vitamin A Meningkat Seiring Penambahan WortelSalah satu temuan penting penelitian terdapat pada kandungan vitamin A. Nilai vitamin A meningkat dari 3,84±0,05pada penambahan wortel 60 gram menjadi 4,22±0,02 pada 70 gram dan 4,65±0,03 pada 80 gram. Hasil analisis menunjukkan penambahan wortel memberikan pengaruh signifikan terhadap kadar vitamin A dengan nilai signifikansi 0,000 (p<0,05). Uji lanjut Duncan juga menunjukkan bahwa ketiga perlakuan berbeda nyata satu sama lain. Peningkatan tersebut dikaitkan dengan kandungan β-karoten dalam wortel yang merupakan prekursor vitamin A. Dengan demikian, semakin tinggi penambahan wortel dalam formulasi, semakin tinggi pula kadar vitamin A yang terukur pada produk penelitian.Kadar Air dan Protein Tidak Berbeda NyataBerbeda dengan parameter sensori dan vitamin A, penambahan wortel 60–80 gram tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap kadar air dan protein. Rata-rata kadar air meningkat secara deskriptif dari 72,86% pada perlakuan 60 gram menjadi 74,04% pada 70 gram dan 74,65% pada 80 gram. Namun, hasil analisis menunjukkan perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik. Kadar protein juga menunjukkan kecenderungan meningkat, yakni 11,97% pada 60 gram, 12,07% pada 70 gram, dan 13,14% pada 80 gram. Meski demikian, hasil analisis menunjukkan perbedaan tersebut belum signifikan secara statistik (p>0,05).Potensi Diversifikasi Produk PerikananSecara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa penambahan wortel memberikan pengaruh nyata terhadap karakteristik sensori sosis ikan tongkol serta meningkatkan kandungan vitamin A. Sementara itu, kadar air dan protein tidak mengalami perubahan yang signifikan secara statistik pada variasi penambahan wortel 60–80 gram. Hasil penelitian ini memperlihatkan potensi pengembangan sosis ikan tongkol dengan tambahan bahan nabatisebagai salah satu alternatif diversifikasi produk hasil perikanan.Penelitian selanjutnya direkomendasikan mengeksplorasi jumlah wortel yang lebih beragam maupun bentuk bahan seperti puree, tepung, dan ekstrak wortel, serta menambahkan parameter seperti kadar lemak, daya simpan, tekstur, dan penerimaan konsumen secara lebih luas. Temuan tersebut menjadi salah satu kontribusi riset FKTP UNG dalam mengembangkan inovasi pengolahan hasil perikanan berbasis bahan lokal, dengan menggabungkan potensi ikan tongkol dan bahan pangan nabati untuk menghasilkan produk olahan yang lebih beragam.

FKTP UNG dan Masyarakat Desa Tabulo Selatan Bergerak Lestarikan Ekosistem Mangrove
30 Sep 2026
08:56 WITA

FKTP UNG dan Masyarakat Desa Tabulo Selatan Bergerak Lestarikan Ekosistem Mangrove

Abdul Wahid Rauf

Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui sosialisasi dan penanaman bibit mangrove di Desa Tabulo Selatan, Kecamatan Mananggu, Kabupaten Boalemo. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat pesisir terhadap pentingnya menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.Kegiatan tersebut didokumentasikan dalam artikel ilmiah berjudul “Penanaman Mangrove sebagai Upaya Konservasi Ekosistem Mangrove di Desa Tabulo Selatan Kabupaten Boalemo”, yang diterbitkan dalam Jurnal Dinamika Pengabdian, Volume 10 Nomor 2 Tahun 2025, halaman 242–252. Artikel tersebut ditulis oleh Lukman Mile, Nuralim Pasisingi, Yuniarti Koniyo, Sri Nuryatin Hamzah, Rieny Sulistijowati, Asri Silvana Naiu, Juliana, dan Rita Marsuci Harmain.Edukasi Masyarakat Menjadi Bagian Penting KonservasiKegiatan yang dilaksanakan pada 18–19 Oktober 2024 tersebut berangkat dari hasil survei yang menunjukkan masih perlunya peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai fungsi ekosistem mangrove serta pemanfaatan potensi sumber daya lokal, termasuk rumput laut. Program pengabdian kemudian dirancang dalam dua tahapan utama, yaitu sosialisasi dan praktik penanaman bibit mangrove.Sosialisasi memberikan pemahaman mengenai fungsi mangrove dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, melindungi garis pantai dari abrasi dan membantu mencegah erosi. Masyarakat juga diberikan informasi mengenai teknik penanaman dan perawatan mangrove agar dapat berpartisipasi secara aktif dalam menjaga keberlanjutan kawasan pesisir.Dalam pelaksanaannya, kegiatan melibatkan masyarakat Desa Tabulo Selatan, penyuluh pertanian dan perikanan, pemerintah daerah, dosen, serta mahasiswa. Penyediaan bibit dalam kegiatan tersebut melibatkan Balai Riset Budidaya Rumput Laut Kecamatan Mananggu. Kawasan penanaman telah ditetapkan sebagai kawasan perlindungan daerah.Menanam Mangrove, Menjaga Fungsi Ekosistem PesisirDesa Tabulo Selatan berada di kawasan pesisir Teluk Tomini. Lokasi kegiatan memiliki luas sekitar 195,24 hektaredan terbagi dalam tiga dusun, yakni Bulalo, Batu Merek, dan Pohilihe.Mangrove memiliki fungsi ekologis dan fisik yang penting bagi kawasan pesisir. Ekosistem ini menjadi habitat berbagai organisme perairan sekaligus berperan sebagai daerah asuhan, pemijahan, dan tempat mencari makan bagi berbagai biota seperti ikan, udang, kepiting, dan kerang. Mangrove juga berfungsi menangkap sedimen, mengurangi erosi serta membantu meredam gelombang laut.Karena itu, keberadaan mangrove tidak hanya berkaitan dengan aspek lingkungan, tetapi juga kehidupan masyarakat pesisir. Ekosistem mangrove dapat mendukung sumber pangan dan mata pencaharian melalui perikanan serta kegiatan budidaya perairan.Kolaborasi Masyarakat dan Perguruan TinggiPenanaman mangrove di Tabulo Selatan memperlihatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan konservasi. Artikel tersebut menekankan bahwa masyarakat yang berada dan bergantung langsung pada ekosistem mangrove perlu dilibatkan dalam proses rehabilitasi agar upaya konservasi dapat berjalan secara berkelanjutan.Kegiatan pengabdian ini juga melibatkan sejumlah jurusan di lingkungan FKTP UNG, yaitu Manajemen Sumber Daya Perairan, Budidaya Perairan, Teknologi Hasil Perikanan, dan Ilmu Kelautan, bersama dosen dan mahasiswa.Melalui kegiatan tersebut, FKTP UNG menunjukkan peran perguruan tinggi dalam menerapkan Tridarma Perguruan Tinggi melalui edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan aksi nyata konservasi lingkungan pesisir.Konservasi yang Berkelanjutan Membutuhkan PendampinganKegiatan pengabdian di Desa Tabulo Selatan berjalan dengan baik dan memberikan pengalaman bagi masyarakat maupun pelaksana kegiatan. Namun, keberlanjutan konservasi tidak berhenti pada kegiatan penanaman bibit. Artikel tersebut menekankan pentingnya pendampingan dan pelatihan secara berkelanjutan, sehingga masyarakat dapat terus meningkatkan pemahaman dan keterlibatannya dalam menjaga ekosistem mangrove.Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, konservasi mangrove di kawasan pesisir diharapkan dapat terus berkembang sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan ekosistem sekaligus mendukung kehidupan masyarakat pesisir.

Ceriops tagal Dominan, Riset FKTP Ungkap Struktur Mangrove Pesisir Teluk Tomini
29 Sep 2026
13:54 WITA

Ceriops tagal Dominan, Riset FKTP Ungkap Struktur Mangrove Pesisir Teluk Tomini

Abdul Wahid Rauf

Ekosistem mangrove di pesisir Teluk Tomini, Kabupaten Boalemo, memiliki komposisi jenis dan tingkat regenerasi yang beragam. Hal tersebut terungkap dalam penelitian Fauzia Zees, Rieny Sulistijowati S., dan Lukman Mile dari Program Studi Ilmu Kelautan, Program Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Penelitian berjudul “Struktur Komunitas Mangrove di Pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo Provinsi Gorontalo” bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis struktur komunitas mangrove pada kategori semai dan pancang di kawasan pesisir Teluk Tomini. Penelitian ini diterbitkan dalam Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik, Vol. 9 No. 4 November 2025, dengan DOI 10.46252/jsai-fpik-unipa.2025.Vol.9.No.4.550.11 Jenis Mangrove DitemukanPengamatan dilakukan menggunakan metode transek garis pada empat stasiun yang mewakili tiga kecamatan pesisir, yakni Desa Bajo di Kecamatan Tilamuta, Desa Dulangeya di Kecamatan Botumoito, serta Desa Tabulo Selatan dan Desa Mananggu di Kecamatan Mananggu. Hasil penelitian mencatat sejumlah jenis mangrove, antara lain Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Bruguiera parviflora, Ceriops decandra, Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Sonneratia alba, Sonneratia caseolaris, dan Xylocarpus moluccensis.Di antara jenis yang ditemukan, genus Rhizophora relatif sering dijumpai pada sejumlah stasiun. Rhizophora mucronata dan Rhizophora stylosa masing-masing ditemukan pada tiga stasiun penelitian. Pola tersebut menunjukkan kemampuan adaptasi kedua jenis terhadap kondisi lingkungan pesisir dengan substrat berlumpur hingga berpasir dan salinitas yang bervariasi.Ceriops tagal Menonjol di Desa DulangeyaTemuan yang cukup menonjol terlihat di Stasiun 2, Desa Dulangeya, dengan Ceriops tagal menjadi jenis yang dominan pada kategori semai. Jenis tersebut memiliki kerapatan mutlak 56 individu/m², frekuensi mutlak 0,48, dan dominansi relatif mencapai 87,5 persen. Sebaliknya, Bruguiera gymnorrhiza di lokasi yang sama memiliki kerapatan mutlak hanya 1 individu/m², frekuensi mutlak 0,05, dan dominansi relatif 1,56 persen. Pada kategori pancang, Ceriops tagal di Stasiun 2 juga menunjukkan nilai kerapatan tertinggi, yakni 8,36 individu/m². Nilai dominansi relatifnya mencapai 73,85 persen. Sementara itu, kerapatan terendah tercatat pada Rhizophora apiculata, yaitu 0,04 individu/m².Stasiun Mananggu Menunjukkan Regenerasi Lebih BeragamPenelitian juga menunjukkan adanya perbedaan jumlah jenis semai antarstasiun. Stasiun 4 di Desa Mananggumemiliki jumlah jenis semai paling banyak, yakni enam jenis: Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Ceriops tagal, Ceriops decandra, Bruguiera parviflora, dan Sonneratia alba.Secara keseluruhan, kerapatan semai tertinggi terdapat di Stasiun 4 dengan 98 individu, sedangkan terendah berada di Stasiun 1 dengan 23 individu. Peneliti mengaitkan perbedaan tersebut dengan variasi substrat, stabilitas hidrologi, serta aktivitas manusia di masing-masing lokasi.Kondisi Lingkungan Masih Mendukung Pertumbuhan MangrovePengukuran parameter lingkungan menunjukkan suhu perairan pada empat stasiun berkisar 26,73–30,19°C, pH 7,33–7,99, dan salinitas 7,33–30,64 ppt. Substrat pada lokasi penelitian secara umum berupa lumpur dan pasir. Hasil penelitian menyebutkan bahwa kisaran suhu tersebut masih mendukung pertumbuhan mangrove, sementara nilai pH berada dalam kisaran yang dinilai normal untuk mendukung kestabilan ekosistem mangrove.Perbedaan salinitas antarstasiun diduga berkaitan dengan masuknya pasokan air tawar di beberapa lokasi. Penelitian ini memberikan gambaran mengenai komposisi, kerapatan, frekuensi, dominansi, serta kondisi lingkungan mangrove di pesisir Teluk Tomini Kabupaten Boalemo. Informasi tersebut dapat menjadi data dasar untuk memahami proses regenerasi dan dinamika komunitas mangrove di kawasan pesisir tersebut. Penelitian ini dipublikasikan pada Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Volume 9 Nomor 4 Tahun 2025 dan tercatat dalam Garuda dengan tiga penulis dari Universitas Negeri Gorontalo.

Hasil Studi FKTP-UNG Ungkap Preferensi Konsumen terhadap Berbagai Merek Nori di Pasaran Gorontalo
29 Sep 2026
09:47 WITA

Hasil Studi FKTP-UNG Ungkap Preferensi Konsumen terhadap Berbagai Merek Nori di Pasaran Gorontalo

Abdul Wahid Rauf

Nori kini tidak hanya dikenal sebagai pelengkap sushi, tetapi juga semakin mudah ditemukan sebagai camilan dan produk pangan siap konsumsi. Kondisi tersebut mendorong pentingnya memahami bagaimana konsumen menilai kualitas nori, mulai dari warna, aroma, rasa, tekstur hingga kandungan gizinya. Hal tersebut dikaji dalam penelitian berjudul “Analisis Organoleptik dan Preferensi Konsumen Terhadap Berbagai Merek Nori Komersial di Pasaran Lokal Gorontalo” yang diterbitkan dalam Fisheries Journal, Volume 16 Nomor 2 Tahun 2026, halaman 860–867.Penelitian ini dilakukan oleh Wila Rumina Nento, Lukman Mile, Nur’ilsya Hasan, Tsania Nurkhaliza Putri Nahdhori, Amelia Audia Asasi, Mega Laguan, Yulan Mooduto, Milya H. Entengo, Nurul Lasatua, Nuratia Soi, Aldiyanto Sedi, Mohamad Farhan Payuyu, Raihan A. Datau, Meivi Lasande, Aryo Mooduto, dan Aspriyanto Adjana, dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo.Tiga Produk Nori Diuji Secara OrganoleptikPenelitian menggunakan tiga produk nori komersial yang diberi kode A, B, dan C. Sebanyak 25 panelis tidak terlatihyang terdiri atas mahasiswa dan staf perguruan tinggi mengikuti pengujian organoleptik dengan skala hedonik lima tingkat. Pengujian dilakukan terhadap karakteristik warna, aroma, rasa, tekstur, dan penerimaan keseluruhan. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2024 di Laboratorium Teknologi Hasil Perikanan, Universitas Negeri Gorontalo.Hasil pengujian menunjukkan bahwa produk B memperoleh nilai rata-rata organoleptik tertinggi sebesar 4,56, sedangkan produk A memperoleh 3,84 dan produk C sebesar 3,54. Secara deskriptif, produk B memiliki warna gelap mengilap, aroma panggang khas, rasa gurih-manis, serta tekstur renyah yang stabil. Meski demikian, analisis statistik ANOVA menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) pada atribut sensorik yang diuji di antara ketiga produk.Kandungan Gizi Berbeda pada Setiap ProdukSelain karakteristik sensorik, penelitian juga membandingkan informasi komposisi gizi yang tercantum pada kemasan. Parameter yang diamati meliputi energi, lemak, karbohidrat, protein, serat, dan natrium. Produk B dan C memiliki energi tertinggi, masing-masing 25 kkal per porsi, sementara produk A sebesar 15 kkal per porsi. Dari sisi lemak, produk C memiliki kandungan tertinggi yaitu 2,5 gram per porsi, disusul produk B sebesar 2 gram dan produk A tidak mencantumkan kandungan lemak.Sementara itu, produk A memiliki kandungan protein dan karbohidrat masing-masing 2 gram per porsi, lebih tinggi dibandingkan produk B dan C yang masing-masing memiliki 1 gram protein dan 1 gram karbohidrat. Perbedaan lain terlihat pada kandungan natrium. Produk B memiliki kandungan natrium tertinggi sebesar 90 mg, diikuti produk A 40 mg dan produk C 25 mg per porsi. Peneliti mencatat bahwa kandungan natrium perlu diperhatikan, khususnya bagi konsumen yang membatasi asupan garam.Rasa dan Tekstur Menjadi Bagian Penting dalam PenerimaanPenelitian menunjukkan bahwa rasa dan tekstur menjadi aspek penting dalam penerimaan konsumen terhadap produk nori. Produk dengan kandungan lemak lebih tinggi cenderung memperoleh penilaian yang lebih baik pada karakteristik kerenyahan dan rasa gurih, sementara formulasi dengan kandungan lemak lebih rendah dapat memiliki karakteristik sensorik yang berbeda.Secara keseluruhan, penelitian menyimpulkan bahwa ketiga produk nori komersial memiliki karakteristik sensorik dan komposisi gizi yang berbeda. Hasil kajian tersebut dapat menjadi informasi bagi konsumen dalam mempertimbangkan produk sesuai preferensi, sekaligus menjadi masukan bagi produsen untuk mengembangkan formulasi nori yang mampu menyeimbangkan cita rasa, tekstur, dan nilai gizi.

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik
29 Sep 2026
09:34 WITA

UNG Laksanakan Uji Publik Pedoman Akademik, Serap Masukan untuk Perkuat Tata Kelola Akademik

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO — Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terus memperkuat tata kelola akademik melalui penyempurnaan pedoman, yang menjadi acuan penyelenggaraan kegiatan akademik di lingkungan kampus. Langkah tersebut dilakukan melalui uji publik Draf Pedoman Akademik 2026 yang dilaksanakan secara daring dan luring, Selasa (29/9).Uji publik yang dipimpin langsung Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., tersebut melibatkan berbagai unsur civitas akademika, mulai dari pimpinan jurusan, program studi, penjamin mutu fakultas, hingga Gugus Penjamin Mutu Program Studi. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menjadi ruang untuk memastikan, pedoman yang disusun dapat mengakomodasi kebutuhan akademik secara lebih komprehensif.Wakil Rektor Bidang Akademik UNG, Prof. Dr. Abdul Hafidz Olii, M.Si., menjelaskan, penyusunan Draf Pedoman Akademik 2026 merupakan bagian dari upaya UNG, untuk menyempurnakan sekaligus memperkuat tata kelola kegiatan akademik di lingkungan kampus kerakyatan UNG.“Pedoman tersebut nantinya diharapkan dapat memberikan acuan yang lebih jelas, terarah, dan terukur bagi pelaksanaan berbagai aktivitas akademik,” ujar Hafidz.Menurutnya, uji publik memiliki posisi penting dalam proses penyusunan pedoman karena menjadi ruang untuk menghimpun berbagai masukan, kritik, maupun saran konstruktif dari pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan akademik. Berbagai perspektif tersebut diperlukan agar aturan yang disusun tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga relevan dengan kebutuhan pelaksanaan akademik di lapangan.“Sebelum ditetapkan dan disahkan secara resmi, substansi dalam pedoman akademik perlu melalui proses penyempurnaan secara menyeluruh. Karena itu, berbagai masukan menjadi bagian penting, untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki maupun diperjelas dalam draf pedoman,” terangnya.Melalui proses uji publik ini, UNG menunjukkan komitmennya untuk membangun tata kelola akademik secara partisipatif. Pedoman Akademik 2026 diharapkan nantinya tidak hanya menjadi dokumen administratif, tetapi menjadi instrumen yang mampu memberikan arah yang seragam, menyempurnakan mekanisme penyelenggaraan akademik, serta mendukung peningkatan mutu pendidikan di seluruh lingkungan UNG. (**)

Bahas Cyberbullying dan Emosi Remaja, Polresta Gorontalo Kota Gelar FGD Bersama Mahasiswa
28 Sep 2026
11:46 WITA

Bahas Cyberbullying dan Emosi Remaja, Polresta Gorontalo Kota Gelar FGD Bersama Mahasiswa

Abdul Wahid Rauf

Satuan Pembinaan Masyarakat (Sat Binmas) Polresta Gorontalo Kota menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Dampak Media Sosial Terhadap Emosi Remaja dan Upaya dalam Mengatasi Cyberbullying” di Ruang Aula Kemaritiman Lantai 4, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Senin, 28 September 2026.Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 WITA tersebut merupakan bagian dari Workshop Satuan Binmas Polresta Gorontalo Kota, dengan menghadirkan Priscilla E. M. Sanggor, SE., Couns., CCLS., CCHS, selaku Counselor, Coach, dan Mental Wellness Practitioner sebagai narasumber.FGD ini mengangkat isu yang semakin relevan di tengah meningkatnya penggunaan media sosial di kalangan remaja, khususnya terkait pengaruh interaksi di ruang digital terhadap kondisi emosional serta munculnya fenomena cyberbullying. Melalui diskusi tersebut, peserta diajak memahami bagaimana penggunaan media sosial dapat memengaruhi emosi dan perilaku remaja, sekaligus membahas berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan menangani cyberbullying.Kehadiran Priscilla E. M. Sanggor memberikan perspektif dari sisi konseling dan mental wellness, khususnya mengenai pengelolaan emosi, kesehatan mental, serta pentingnya membangun lingkungan yang mendukung bagi remaja dalam menghadapi tekanan di ruang digital.Diskusi juga menjadi ruang untuk mendorong pendekatan yang lebih edukatif dan preventif dalam menghadapi cyberbullying. Pemahaman bersama antara aparat kepolisian, lingkungan pendidikan, keluarga, dan masyarakat dinilai penting dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi remaja.Pelaksanaan kegiatan di lingkungan FKTP UNG sekaligus memperlihatkan adanya ruang kolaborasi antara Polresta Gorontalo Kota dan Universitas Negeri Gorontalo dalam membahas isu sosial yang berkembang di masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan generasi muda.Melalui FGD ini, diharapkan peserta memperoleh wawasan mengenai dampak penggunaan media sosial terhadap emosi remaja serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi cyberbullying. Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi berbagai pihak dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman, sehat, dan suportif bagi generasi muda di era digital.

Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik UNG Dorong UMKM Masyarakat Kembangkan Pemasaran Digital
28 Sep 2026
10:52 WITA

Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik UNG Dorong UMKM Masyarakat Kembangkan Pemasaran Digital

Abdul Wahid Rauf

Mahasiswa Jurusan Administrasi Publik Universitas Negeri Gorontalo (UNG) melakukan kunjungan ke salah satu UMKM kerajinan eceng gondok Alata Handmade Gorontalo, untuk membantu mengembangkan strategi pemasaran melalui media sosial.Kegiatan yang merupakan bagian dari mata kuliah Technopreneurship tersebut berlangsung di Kelurahan Kayubulan, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Minggu (27/09).Dosen pengampu mata kuliah Technopreneurship, Ramansyah, mengatakan kunjungan tersebut menjadi salah satu bentuk pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenal pengelolaan usaha secara langsung.“Ini merupakan salah satu bentuk yang baik dari kami, khususnya bagi kampus, untuk mengenal lebih jauh produk kerajinan eceng gondok terutama dalam memaksimalkan pemasaran usaha ini,” ujar Ramansyah.Ia menjelaskan, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswa Jurusan Administrasi Publik untuk memahami bagaimana pelaku UMKM mengembangkan usaha, termasuk dalam memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari pemasaran.Sementara itu, Mahasiswa Administrasi Publik, Naila Putri Abdullah, mengatakan pihaknya juga akan membantu menyusun perencanaan pemasaran dan promosi Alata Handmade agar dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.“Melalui kunjungan ini, kami akan membantu dalam perencanaan pemasaran atau promosi lebih luas dengan menggunakan platform media sosial,” kata Naila.Menurut Naila, media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk unik dari hasil kerajinan eceng gondok, melalui konten yang menampilkan produk dan proses pembuatannya.Pemanfaatan platform digital tersebut diharapkan dapat membantu Alata Handmade memperluas jangkauan promosi, tidak hanya kepada masyarakat di sekitar Kabupaten Gorontalo, tetapi juga calon konsumen di luar daerah.Kegiatan ini sekaligus menjadi penerapan pembelajaran Technopreneurship di lapangan, dengan mahasiswa terlibat dalam mengidentifikasi kebutuhan dan peluang pengembangan usaha melalui pemanfaatan teknologi digital.