Site Logo

Harta Karun Hijau Hungayono, Menguak Rahasia Famili Meliaceae di Jantung Taman Nasional

Penelitian
Abdul Wahid Rauf
25 Feb 2026
08:31 WITA
Harta Karun Hijau Hungayono, Menguak Rahasia Famili Meliaceae di Jantung Taman Nasional

Kawasan Wisata Alam Hungayono di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) tidak hanya menawarkan pesona pemandian air panas dan burung Maleo. Di balik rimbunnya kanopi hutan hujan tropis Gorontalo, tersimpan kekayaan botani yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, sebuah penelitian ilmiah berhasil memetakan keberadaan famili Meliaceae—kelompok tumbuhan berkayu yang memiliki nilai ekologis tinggi—di kawasan tersebut.

Penelitian yang digawangi oleh Moh Sapitri Bantali, Dewi Wahyuni K. Baderan, dan Melisnawati H. Angio ini menjadi tonggak penting dalam pendataan biodiversitas lokal yang selama ini belum terjamah secara spesifik.

Dari penelusuran di lapangan, tim peneliti berhasil mengidentifikasi 10 spesies berbeda dengan total 192 individu. Menariknya, Lansium domesticum atau yang lebih kita kenal sebagai pohon langsat, tampil sebagai spesies yang paling mendominasi. Selain langsat, jenis lain seperti Aglaia sp. dan Didymocheton gaudichaudianus turut menghiasi kerapatan vegetasi di Hungayono.

Secara statistik, keanekaragaman di wilayah ini masuk dalam kategori sedang ($H' = 1,91$). Angka ini memberikan sinyal positif: meskipun Hungayono merupakan area wisata yang aktif dikunjungi manusia, ekosistemnya masih tergolong stabil dan mampu mendukung kehidupan tumbuhan penyokong hutan tersebut.

Temuan yang paling mencuri perhatian adalah status konservasi para penghuni hijau ini. Empat spesies yang ditemukan ternyata masuk dalam daftar merah IUCN dengan kategori Vulnerable (Rentan) hingga Near Threatened (Hampir Terancam).

Hal ini menjadi pengingat bagi pengelola dan wisatawan. Hungayono bukan sekadar tempat rekreasi, melainkan "benteng terakhir" bagi spesies-spesies yang mulai langka di alam liar. Aktivitas ekowisata di sini harus berjalan beriringan dengan upaya perlindungan agar keberlanjutan flora ini tetap terjaga hingga masa depan.

Keberhasilan famili Meliaceae bertahan di Hungayono bukan tanpa alasan. Tim peneliti mencatat kondisi lingkungan yang sangat "ideal":

Suhu Udara: Rata-rata 28,3°C (hangat khas tropis).Kelembapan: Mencapai 84% (sangat lembap).pH Tanah: Berada di angka 6,5 (mendekati netral).

Menurut tim peneliti, hasil studi ini menyediakan data dasar penting bagi pengelolaan keanekaragaman hayati dan dapat menjadi rujukan bagi kebijakan konservasi, pendidikan lingkungan, serta pengembangan ekowisata berkelanjutan di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Penelitian ini dipublikasikan dalam Bioculture Journal Vol. 2 No. 2 Tahun 2025 dan dilakukan dengan metode eksploratif menggunakan teknik probability sampling di kawasan Wisata Alam Hungayono.

Ikuti berita lainnya

Harta Karun Hijau Hungayono, Menguak Rahasia Famili Meliaceae di Jantung Taman Nasional
25 Feb 2026
08:31 WITA

Harta Karun Hijau Hungayono, Menguak Rahasia Famili Meliaceae di Jantung Taman Nasional

Abdul Wahid Rauf

Kawasan Wisata Alam Hungayono di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) tidak hanya menawarkan pesona pemandian air panas dan burung Maleo. Di balik rimbunnya kanopi hutan hujan tropis Gorontalo, tersimpan kekayaan botani yang luar biasa. Untuk pertama kalinya, sebuah penel...

Tas Kecil, Identitas Besar: Saat Gaya Hidup "Membajak" Kebutuhan Akademik Mahasiswa
24 Feb 2026
11:03 WITA

Tas Kecil, Identitas Besar: Saat Gaya Hidup "Membajak" Kebutuhan Akademik Mahasiswa

Abdul Wahid Rauf

Sebuah skripsi mahasiswa Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Gorontalo menyoroti fenomena yang tampak sederhana, namun sarat makna: penggunaan tas kecil di kalangan mahasiswa. Di balik pilihan aksesori yang ringkas itu, tersimpan perubahan cara pandang tenta...

Menambang Air di Balik Batu, Rahasia Batupasir Teluk Tomini untuk Swasembada Air Nasional
24 Feb 2026
10:16 WITA

Menambang Air di Balik Batu, Rahasia Batupasir Teluk Tomini untuk Swasembada Air Nasional

Abdul Wahid Rauf

Di tengah isu krisis air global, sebuah kabar baik muncul dari kedalaman bumi Teluk Tomini. Selama ini, mata kita mungkin hanya tertuju pada sungai atau danau di permukaan, namun tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) baru saja mengungkap sebuah "gudang" raksasa yan...

Limbah Jadi Berkah, Peneliti UNG Temukan Potensi Terapi Alami dari Kulit Jeruk Nipis
19 Feb 2026
12:43 WITA

Limbah Jadi Berkah, Peneliti UNG Temukan Potensi Terapi Alami dari Kulit Jeruk Nipis

Abdul Wahid Rauf

GORONTALO - Siapa sangka, kulit jeruk nipis yang selama ini kerap berakhir di tempat sampah ternyata menyimpan potensi besar bagi dunia kesehatan. Penelitian terbaru dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) membuktikan bahwa limbah kulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandun...

Lihat Semua Berita

© Copyright 2025, Universitas Negeri Gorontalo